Kamis, Oktober 22, 2009

Oh... Rumahku.... (Bagian Kedua)

Tiba pada hari ‘H’nya untuk kepindahan kami, kami sudah pamitan sama tetangga, barang2 sudah dipak semua tinggal angkut ke mobil. Mobilnya pun sudah kami pesan sekalian. Barang2 seperti lemari besar yang diruang tamu, lemari pakaian, buffet dan satu set kursi tamu kami jual sekalian kepada orang yang beli rumah kami, Karena kami sadar akan menempati rumah baru yang ukurannya jauh lebih kecil nanti di Jakarta. Anak2 sudah kami sepakati untuk berangkat barengan dengan mobil yang ngangkut barang. Sedangkan aku berdua istri sudah berangkat duluan ke Depok, dimana disana kami akan melakukan transaksi jual beli rumah kami dengan pihak yang beli, disaksikan oleh seorang notaris.

Sambil menunggu kedatangan notaris, kami menyempatkan nelepon pak Mar dari sebuah wartel, yang mengabarkan bahwa kami akan melakukan transaksi jual beli rumah kami yang di Bojong sekalian menanyakan bagaimana nanti proses pembayaran ke pihak pak Mar. Dia bilang nanti kami datang saja ke rumahnya di daerah Pasar Ciplak Kali Malang karena dia takut membawa uang cash di jalanan. Oke kami sepakati itu.

Lancar dan aman sekali proses jual beli itu, jam 3 sore kami berdua sudah meluncur ke Jakarta dengan mengantongi uang cash 11 juta dan selembar kwitansi bermaterai yang tercantum didalamnya tanda tangan sah pembeli rumah kami. Kertas selembar itu yang menandai bahwa kami sudah tidak punya lagi rumah di daerah Bojonggede.

Karena kami tidak punya handphone waktu itu, kami sengaja mampir ke kantorku untuk menelpon pak Mar.

“Hallo… pak Mar? Apa kabar?” begitu sapaan mengawali pembicaraan kami ditelephone.

“Baik pak…” jawab pak Mar diseberang sana.

“Begini pak, uangnya 11 juta sudah ditangan kami. Kami sekarang ada di Jakarta, Bapak tunggu saja kami dalam setengah jam-an insya Allah nyampe di rumah bapak…” belum selesai kalimatku meluncur semua pak Mar memotongnya:

“Maaf pak, saya mau minta maaf nih….” Katanya.

“Kenapa pak?” tiba-tiba pertanyaanku meluncur mengiringi perasaan kagetku.

“Setelah saya ngobrol2 sama istri saya, ternyata istri saya tidak setuju….” Kata pak Mar lagi.

Tiba-tiba aku terhenyak dari tempat dudukku. Serasa sebuah petir telah menyambar di ubun-ubun kepalaku. Pandanganku tiba-tiba agak tersamarkan dengan warna kuning di mana-mana…. Kulihat istriku terpaku juga di sampingku.

“Istri saya tidak setuju dibayarnya nyicil begitu, dia maunya cash semuanya…. Sekaligus”, pak Mar melanjutkan tanpa bisa memperdulikan gejolak yang mulai timbul dalam otakku.

“Tapi kan kita sudah sepakat pak…”, hanya kalimat itu yang sempat meloncat dari mulutku, tersendat kuat… kuat sekali dalam kerongkonganku.

“Kalau bapak tidak bisa, tidak apa-apa…. Kita batalkan saja penjualan ini….” Ucap pak Mar memotong lagi. Memotong pembicaraan kami yang terakhir. Karena setelah itu aku dengar telepon diseberang diputus.

Giliran aku yang terpaku sekarang, dua lututku aku paksakan untuk menahan bobot tubuhku yang mulai gemetaran mau ambruk. Dengan gagang telepon masih ditangan, pikiranku segera melayang ke belahan bumi yang lain dimana anak2ku tengah duduk berdesak-desakan di dalam mobil yang sudah meluncur ke arah sini dengan membawa barang2 pindahan dari rumahku yang kini sudah jadi milik orang. Wajah mereka aku lihat berbinar2, karena merekapun memang sudah dari jauh2 hari membayangkan akan tinggal kembali di kota Jakarta yang ramai dipenuhi dengan mimpi2 yang menjanjikan.

Aku pijit tombol radial di telepon, terdengar nada terputus dari ujung sana… aku coba lagi…. Begitu dan begitu lagi suara yang terdengar…. Pak Mar sudah tidak mau lagi ngangkat gagang telepon…. Aku seakan divonis mati oleh orang yang baru aku kenal… yang aku kira ‘orang baik2 saja’, orang yang ‘baik hati’ sehingga mau menjual rumahnya dengan cara dicicil begitu….

Aku mau bilang, bahwa kami sudah tidak punya rumah lagi, anak2 dan barang2ku sudah ada diperjalanan ke sini, uang sudah ada di tangan kami….. mau diapakan uang sebesar ini di Jakarta yang butuh biaya hidup serba mahal. Uang sebesar ini tidak ada harganya buat membeli rumah di Jakarta…. Tapi pak Mar sudah memukulkan palu vonis di kepalaku, seperti seorang hakim yang ‘brangasan’, seperti malaikat Ijrail, seperti seorang konglomerat yang mencampakkan kami diantara tumpukan sampah, seperti…… yah sudahlah takdir Allah sudah menentukan begini…

Istriku ‘menggerung’ menahan tangisannya yang meledak, seperti suara mobil yang tengah menanjak sambil memikul beban berat dipunggungnya. Aku dekap istriku, biarlah dia nangis sejadi-jadinya di dadaku untuk beberapa saat.

“Allah sudah menentukan lain…” ucapku lirih, kepada istriku dan juga kepada hatiku yang terluka, tersayat, pedih, pedih sekali.

“Yah…. Sabarin aja Mah…. Mungkin Allah sedang menguji keimanan kita…”, hiburku buat istriku, dan buat hatiku sendiri. Entahlah istriku akan terhibur dengan ucapanku…. Karena aku sendiri tak yakin dengan ucapanku…

Setengah jam kami rembukan, untuk menentukan langkah selanjutnya…. Kami harus menghargai waktu sekarang, karena barang2ku yang akan tiba di Jakarta ini harus disimpan di mana, sedang waktu sudah merambat sore…. Sebentar lagi malam akan tiba...

Kami lanjutkan pembicaraan kami diatas sadel motor vespaku yang mulai merayap menyusuri hingar bingar kota Metropolitan. Berbagai solusi terlontar dari mulut kami, untuk segera kami putuskan dalam waktu yang mendesak ini.

Kalau aku bawa ke rumah mertua yang di Kramat Pulo….. mungkin untuk sebagian kecil barang2 bisa tertampung, tapi yang sebagian besarnya mau diapakan? Ah… gak mungkin kami numpang di rumah mertua….

Mau dibawa ke rumah orangtuaku di Bandung…. Mana mungkin perjalananan malam begini ke sana, mereka pun belum kami beritahu ihwal kepindahan kami ini, dan yang terutama sekali ongkosnya dari mana kami dapatkan dalam waktu sesingkat ini….

Aku mencoba mampir ke seorang kenalanku yang pernah menjabat sebagai DPRD dengan harapan mungkin bisa membantu atau paling tidak memberi jalan keluar, tapi beliau hanya bisa menghibur dengan mendoakan agar kami segera mendapatkan jalan terbaik yang harus kami tempuh. Sabarrrr.. itulah amanat yang beliau tanamkan di kepalaku.

Kata ‘Sabar’ mungkin tidak berlaku dalam keadaan mepet seperti ini Pak, biarlah akan kami pakai setelah semuanya ini berakhir, gerutuku (maaf ya Pak, saya berterus terang sekarang).

Waktu mobil yang membawa barang2 kami tiba, dan barang mulai diturunkan di pinggiran jalan, aku mulai merasa gerah. Bukan karena udara luar yang mulai merayapi badan, tetapi karena perasaan dan pikiran yang tidak karuan, sama halnya dengan istriku. Kami belum mendapatkan lokasi untuk menyimpan barang2 kami, untuk berlindungnya anak2 kami. Tetapi kami harus efisien dan tidak boleh salah lagi dalam mengambil keputusan untuk memecah-mecah uang kami, sebab uang ini bukan uang hadiah atau berasal dari ‘uang kaget’, tapi dari hasil penjualan rumah kami, yang latar belakangnya dari hasil jerih payah, banting tulang, kerja kerasku sedari bujangan dulu. Berarti itu adalah satu-satunya modal yang boleh dibilang yang aku tabung selama hidupku. Aku harus jadiin modal lagi buat meringankan hidupku dimasa datang.

Jarum jam di warteg seberang jalan menunjukkan pukul 9 lebih 15 waktu terlintas dalam ingatanku, ada seorang tetangga mertuaku yang katanya mau jual rumah seharga 28 juta, belum laku2 sampai sekarang. Karena memang letaknya agak susah, ada di sebuah gang kecil diantara rumah2 petak. Ukurannya kecil, hanya 2,5 x 5 meter, semi permanen, dibawahnya ditembok, lantai dua kayu semua yang agak berantakan, dan dibagian atapnya dibikinkan sebuah kamar yang kecil untuk memanfaatkan ruang kosong diantara plafon rumah dan genteng. Aku pikir cukuplah muat semua barang2ku kalau disusun rapi, biarlah tidak semua dipajang semestinya, yang penting bisa masuk dan kami bisa tidur malam ini dalam sebuah rumah, bukan di jalanan, layaknya orang yang tidak punya rumah.

“Saya berniat beli rumah itu, tapi saya mau nyoba dulu dengan ngontrak selama 1 tahun. Disamping uangnya baru terkumpul seluruhnya dalam setahun ini dan juga untuk mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, apa keluarga saya bisa cocok nggak dengan rumah ini, namanya kalau beli rumah kan bukan buat satu dua hari, tapi untuk selamanya”. Begitu ucapanku pada pemilik rumah itu. Entah karena melihat iming2 uang yang akan segera saya serahkan dalam beberapa detik ini untuk dia (maaf ya Bu, jangan tersinggung) atau karena kasihan melihat kondisi saya saat itu atau karena pertimbangan lain, saya tidak tahu. Yang jelas, kalau sama yang lain dia tidak mau mengontrakkan rumah itu, karena memang hanya berniat menjualnya. Tapi kalau sama kami dia langsung saja menyetujui permintaan kami. “Dil” pembicaraan kami, maka barteranlah beberapa lembar uang ratusan ribu dengan sepotong kunci rumah.

Mertua dan adik2nya istri segera membersihkan rumah, dan aku bersama istri segera shalat dan bersujud syukur, paling tidak mensyukuri kami bisa segera menempati sebuah rumah tetap mulai malam ini meskipun statusnya hanya ngontrak.

Para pembaca, secuil kisah ini aku hadirkan hanya untuk mengenang peristiwa musibah buat keluargaku, dan untuk pelajaran buat saudara2 pembaca agar tidak mudah percaya sama orang terutama di kota besar seperti Jakarta ini. Jangan seperti kami, karena kami biasa jujur sama orang dan selalu berusaha untuk bisa dipercaya orang, sehingga akhirnya kami gampang sekali mempercayai orang baru, yang ternyata bisa menjerumuskan kita pada kesengsaraan hidup. Kesepakatan HITAM DI ATAS PUTIH, walaupun hanya selembar, kiranya perlu sekali dilakukan untuk meneguhkan suatu perjanjian, terutama jual beli. Karena yang ‘selembar’ itu bisa kita jadikan senjata bila terjadi masalah pengingkaran dari perjanjian yang sudah disepakati. (Sekian)

Oh... Rumahku.... (Bagian Pertama)

“Hallo…. Pak, bagaimana, apakah perlu saya kasih dp dulu biar buat tanda jadi aja?” ucapku pada pembicaraan kami di telepon untuk sekian kalinya.
“Ah… gak usah pak, saya percaya saja sama bapak”, jawabnya enteng tanpa beban.
“Alhamdulillah…. Kalo gitu, kita saling percaya aja ya pak”, ucapku berbunga-bunga, aku tengok istriku yang sedari tadi ada di samping, menempelkan kupingnya di gagang telepon yang lagi aku pegang. Tampak wajahnya sungguh sumringah. Aku sering melihat istriku temperamennya begitu kalau dia merasa bahagia dan bayangan cita-citanya atau yang diinginkannya sudah menemukan jalan terang dan diprediksi akan lancar tanpa hambatan.
Pembicaraan itu begitu akrab dan penuh kekeluargaan, antara dua pihak, di satu pihak aku dan istriku sebagai pihak pembeli dan di pihak lain adalah pak “Mar” (nama samaran) sebagai pihak penjual. Kami saat itu sedang bertransaksi jual beli sepetak rumah sangat sederhana di bilangan gang R, Jl Tanah Tinggi, Jakarta Pusat. Memang sangat sangat sederhana sekali rumah itu. Letaknya di tengah gang sempit yang agak siku, saking sempitnya itu gang, kalau kita punya motor vespa tahun 1977, gak bakalan masuk deh, hanya bisa dilalui motor bebek model sekarang yang ramping-ramping, itupun mesti dijalanin dalam keadaan mesin mati.
“Pokoknya begitu bapak menyerahkan uangnya, saya serahkan kuncinya”, begitu penegasan dari pak Mar.
Sudah beberapa kali kami terlibat pembicaraan mengenai jual beli rumah itu. Kesepakatannya: rumah itu dihargai 17 juta, akan kami bayar 10 juta dulu, dan yang 7 jutanya akan dibayar nyicil tiap bulan 1 juta. Cara pembayaran itu saya kemukakan pada pak Mar, sehubungan rumah saya yang ditempati sekarang hanya laku terjual 11 juta, dan yang 1 jutanya buat kami bayar2in segala macam yang tertunda, juga buat ongkos pindahan, bawa2 perlengkapan rumah dari Bojonggede ke Jakarta ini. Cara pembayaran itu sudah disepakati oleh pak Mar, dari awal-awalnya pembicaraan kami. Memang kami sempat bertemu satu kali ketika pak Mar mempersilahkan kami melihat2 keadaan rumah yang akan dijual itu, dan selanjutnya2 kami hanya berkomunikasi lewat telepon saja.
Rumahnya mungkin sekitar 4 x 4 m, belum ada listrik, belum ada septiktank, atapnyapun baru didak, gak tahu dicor tidaknya. Yang jelas katanya diatas buat jemur baju. Masih berantakan kondisinya, mungkin kalau buat anda yang tidak terbiasa hidup di lingkungan rumah2 kumuh, pasti akan mengangkat bahu merinding, tapi untungnya kami sudah pernah tinggal di daerah seperti itu. Kami sudah rencanakan, untuk merapihkannya biarlah sambil jalan - sambil ditempati…., hanya satu yang jadi pokok incaran kami…… rumah itu harganya murah bisa kejangkau, dan letaknya di tengah kota cing…..
Pak Mar ingin segera mendapatkan uang dari penjualan rumah itu guna membiayai operasi istrinya yang katanya terkena kanker rahim, biaya operasinya sekitar 11 jutaan, kalau dapat dari kami 10 juta sebagai pembayaran pertama, berarti dia tinggal mencari 1 juta lagi. Dan kami ingin segera pindah ke Ibukota ini karena kami sudah cape sekali tinggal jauh dari tempat kerja aku. Klop sekali kalau dipikir, dia ingin buru-buru jual itu rumah, dan kami ingin buru-buru beli itu rumah.
Sudah 6 tahun kami tinggal di daerah Bojonggede Bogor, disebuah perumahan sederhana, tempatnya cukup sejuk dan berudara masih bersih bila dibandingkan di kota Jakarta ini. Dan kerjaku pada siang hari di bilangan Tomang Jakarta Barat. Sedang malamnya aku kerja di bilangan Percetakan Negara Jakarta Pusat. Memang aku kerja di dua tempat berbeda, tapi satu bidang pekerjaan yaitu mengutak-atik kata biar jadi bacaan yang bisa dikonsumsi masyarakat luas, istilah kerennya aku ini seorang desainer majalah gicu…. Sudah lebih dari 10 tahun aku kerja di tempat kerjaanku yang siang ini, secara kebetulan seorang kenalanku yang menjadi bos salah satu biro setting rekanan angkatan darat menawariku kerja di bidang yang sama, yang bisa dilakukan malam hari. Pucuk dicinta ulam tiba dong…. Pasti aku sambut tawaran itu. Dan sudah berjalan lebih dari satu tahun aku bergabung dengannya.
Jadi selama hari kerja, seharian ditambah setengah malamnya aku habiskan hidupku di depan komputer. Datang pagi hari dan pulang malam hari.
Pulang kerja dari Jakarta jam 12 malam sampai rumah jam 2 atau jam 3 pagi, istirahat sejenak sambil ngobrol2 sedikit sama istriku. Itupun sambil menunggu datangnya kantuk, lalu kami tidur, disamping anak2 kami yang tidak merasa terganggu dengan kedatanganku. Dan jam 6 pagi kami sudah terbangun lagi, untuk mempersiapkan keberangkatan aku kerja lagi. Begitu dan begitu keadaannya setiap hari yang kami lewati. Untuk bertemu anak2ku, sangat sulit sekali, bayangkan saja, aku berangkat pagi sekali sebelum mereka terbangun, dan aku pulang saat mereka masih terlelap tidur. Hanya ada dua hari dalam seminggu yaitu hari Sabtu dan Minggu, kami bisa bertemu, karena itu hari libur aku dari tempat kerjaanku. Itupun kalau aku tidak lembur ditempat kerjaanku yang malam. (ikuti postingan selanjutnya “Tidur yang Berjalan”)
Keadaan yang demikianlah yang mendorong aku dan juga istriku yang selalu menyarankan untuk segera mencari rumah di daerah Jakarta, agar aku tidak terlalu cape diperjalanan, dan waktu bertemu anak2pun bisa diperpanjang.
Makanya begitu aku mendengar ada orang mau jual rumah buru2 karena butuh, kamipun segera menyambutnya. (Bersambung)

Minggu, Juni 21, 2009

Tukang Ojek

Langit malam sangat pekat waktu itu, angin darat terasa menusuk2 sampai di pori2 kulit, menembus jaket lusuhku yang sudah sangat usang dimakan usia. Sesekali cahaya kilat menyambar2 di kaki langit sebelah selatan. Rupanya malam inipun tidak bersahabat, tidak mendukung usahaku dalam mengais rejeki di jalanan. Padahal bulan ini harusnya sudah kemarau, seperti di tahun-tahun yang lalu… tapi kenapa tahun ini malah masih saja hujan….. imlek sudah jauh kelewat, hujan masih terus saja menyergap ibukota negeri ini.
Sudah beberapa bulan ini, semenjak habisnya lebaran Idul Fitri, pendapatan kami sebagai tukang ojek motor yang beroperasi malam hari sangat tipis sekali, jauh dibawah standar rata-rata pendapatan di tahun kemarin. Biasanya dalam satu malam paling tidak aku mengantongi uang-uang kumel empat puluh ribuan bersih, itu sudah dipotong bensin, makan, dan ngopi…. Atau paling minim2ya 15 ribuan sih dapat….. Tapi belakangan ini…. Teman-temanku pun yang motornya nyewa… pada ngeluh karena uang sewa motor terus-terusan ditumpuk, diutang….. demi mendahulukan uang buat belanja di rumah. Malam ini, dari mulai aku keluar habis Magrib tadi sampai saat ini jam sepuluh lewat, belum satupun penglaris yang menghampiri aku. Bagaimana makan anak-istriku besok yah? Ocehan dan umpatan apa lagi yang akan aku dengar keluar dari mulut istriku nanti. Yah…. Nasib….. kok begini amat yah???
“Bang….. narik gak?”, tiba-tiba pundakku dicolek orang. Aku kaget setengah mati rasanya.
Seorang anak muda berpakaian rapi dengan berselendang tas hitam, mungkin isinya laptop, aku bisa tahu karena pernah melihat yang macam begitu di toko Gramedia. Rambutnya ikal, agak panjang, tapi rapi. Sepertinya seorang karyawan dari sebuah kantor yang kemalaman pulangnya, atau habis lembur. Aku baru melihat nya sekarang di daerah ini..
“Heh, kok bengong….. anterin ke jalan Arjuna dong,” katanya kembali mengagetkan.
“Oh iya, ayo…,” ucapku… aku segera tersadar dan segera menstater motor, begitu sewa (penumpang)ku itu ‘menclok’ di jok belakang.
Jarak antara pangkalan ojekku dengan jalan Arjuna, cukup dekat, hanya makan waktu 10 menitan, tinggal mengarahkan motor ke arah daerah belakang, nyebrang rel kereta, belok sedikit, sampe deh…. Ongkosnya pun termasuk harga ‘minimalis’ hanya tiga rebu perak.
“Ngelamun melulu bang, apa sepi penumpangnya yah?” Sewaku membuka obrolan, aku paling seneng kalau ada penumpang yang mau ngajakin ngobrol selama dalam perjalanan. Kayaknya tidak ada jarak pemisah antara sang tukang ojek dengan tuan sang penumpang.
“Memang….. betul dek, ini juga saya baru penglaris...,” jawabku.
“Oh…,” hanya itu ucapannya lagi…..
Hening sesaat. Tapi gak lama kemudian anak muda itu memperkenal diri, dia kerja sebagai IT pada sebuah TV Swasta di negeri ini. Dia berasal dari Bandung, sedang ikut acara pelatihan di kantor pusatnya di Jakarta ini. Entah karena merasa berasal dari daerah yang sama yaitu orang priangan, begitu turun dari motor, karena sudah sampai ditujuan, dia menawarkan saya untuk melamar ke kantor pusatnya yang kebetulan lagi membutuhkan sopir perusahaan. Saya disuruh membikin surat lamaran segera, karena akan dia antarkan ke bosnya sebelum dia pulang kembali ke daerah.
Bujug buneng…. Dapat durian runtuh gue…. Gak disangka gak dinyana… kok ada penumpang yang baek bener…. Mimpi apa semalam….. eh… kan ini malam, aku kan belum tidur…… kapan bisa mimpinya… he..he..he…
Aku kembali ke pangkalan dengan mengantongi uang ribuan empat lembar, yang satu lembar sebagai bonus ‘uang rokok’ katanya. Dan yang paling penting sekali, adalah selembar kartu nama… yang didalamnya tertulis nama sewaku tadi, nama kantor, logo kantornya dan nomor telepon dia..
Begitu aku selesai menstandarkan motor, aku segera sibuk mengunci stang motorku dan menjambret dua helmku, dan segera lari ke pos ojek, karena hujan mulai turun.
Airnya sangat kenceng, rapat dan banyak, seperti bener-bener ditumpahkan dari langit. Suara gemuruh guntur bersahut-sahutan… Aku menggigil sendirian di pojok Pos Ojek, karena teman2ku yang lain sudah pada tunggang langgang, ada yang pulang ke rumahnya, berlindung di pos hansip dan ada juga yang di warteg.
Malam tambah sepi, hanya derasnya air yang mengguyur jalanan, yang terdengar amat keras. Kendaraan tinggal satu-satu yang lewat. Ketika aku membuka ‘kopor keramat’ku yang berisi ijazah dan surat-surat berharga yang selalu tersimpan rapi di tempat yang aman di dalam rumahku. Karena itulah satu-satunya barang berharga yang kemanapun selalu aku bawa-bawa. Surat-surat yang diharapkan bisa membawa perubahan hidupku.
Segera aku habiskan beberapa kertas polio untuk menulis surat lamaran, daftar riwayat hidup, dan surat-surat lainnya. Aku masih ingat cara dan apa saja yang diperlukan untuk mengajukan lamaran kerja.
Lewat tangan si ‘Doel’ begitu saja nama panggilan buat sang malaikat penumpangku itu, aku diterima kerja…. Bukan sebagai sopir, malah aku ditempatkan di bagian administrasi karena bagian personalia setelah melihat riwayat hidup dan ijazah2ku serta menguji ketrampilanku dalam memainkan tuts-tuts keyboard komputer aku dipercayakan di bagian itu.
Satu bulan, dua bulan, satu tahun, dua tahun,… karierku di kantor itu melesat seperti kilat yang menyambar-nyambar di malam itu…. Cepat sekali… dan sekarang sudah menjadi salah satu tangan kanan pimpinan. Alangkah instant hidup ini, dari yang tadinya tukang ojek… sekarang sudah duduk di belakang meja…. Berdasi pula.
“Heh…. AA, pulang gak,” tiba-tiba suara keras menyambar kupingku, menggelegar seperti petir yang menyambar. Kurang ajar bener aku sudah rapih dan berdasi begini dipanggil AA…. Berdiri di depanku adik iparku dengan berseragam rapi, mau berangkat sekolah. Kok ada dia di sini….. Emang aku ada di…….. belum sempet aku menyelesaikan kalimat keherananku, aku terhenyak sesaat, ternyata aku masih ada di Pos Ojek….. rupanya aku ketiduran semalam sambil menunggu hujan yang gak kunjung reda….
Aku tadi bermimpi, jadi seorang karyawan berdasi…… Ah…. Kuraba kantong celanaku…… dompet masih ada, kunci motor ada, kartu nama si Doel ternyata ada…. Alhamdulillah…. Ternyata beneran aku nganterin penumpang semalam ke….. oh yah… ke jalan Arjuna dan si Doel ngasih kartu nama ini biar aku bikin lamaran…. Yah… aku disuruh bikin lamaran buru2….. aku segera meloncat dari ‘tempat tidur’ku…dengan semangat 45 menuju motorku.
Tapi begitu menstater motor buat pulang, aku teringat lagi…. Duit di kantong cuman ada empat ribu….. mau makan apa keluargaku ini hari??? Kebohongan apa yang harus aku katakan kepada istriku dengan selembar kartu nama ini…. Agar dia tidak marah…. Tidak melempar piring ke mukaku, atau memecahkan gelas beberapa biji…..
Tapi semangatku timbul lagi waktu aku teringat pada artikelnya Pak Joko Susilo yang pernah aku baca di internet tentang “Stop DREAMING Start ACTION”, memang aku tadi bermimpi…. Dan sekarang harus segera beraksi….. karena aku harus segera menghubungi si Doel dan menyerahkan surat lamaranku. Kali aja sekarang keberuntungan ada di pihakku…… soal ocehan istriku di rumah nanti….. biarlah aku akan terima saja…. Emang kenyataan begini…. Mau diapain lagi kan??? (sekian)

Catatan: Ini Naskah ke 2 yang merupakan pengalaman pribadi saya, dihaturkan untuk ikutan Kontes SEOnya Pak Joko Susilo.

Selasa, Mei 05, 2009

Semut Hitam, Air, Lebah dan Ikan Asin...

Hari ini saya teringat nasihat guru ngaji dulu, bahwa kalau kita hidup itu harus memakai prinsip Semut hitam, air, lebah dan ikan asin.
Lho apa maksudnya?
Begini katanya:
Dalam bekerja kita harus menerapkan prinsip Semut hitam. Seekor hewan yang tak kenal lelah, dikenal sebagai pekerja keras. Siang malam seakan tidak ada waktu untuk beristirahat. Malam disaat orang-orang atau makhluk lain tengah terlelap dibuai mimpinya.... dia masih bekerja..... dan waktunya siang dimana yang lain mulai bekerja, diapun lebih giat lagi bekerja. Rupanya dia menerapkan hadits Nabi yang berbunyi: Bekerjalah kamu seakan mau hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakan mau mati besok. Sekarang giliran kita yang menerapkan semangatnya sang semut itu.
Air, adalah senyawa yang senantiasa mencari dataran yang rendah, dimanapun dan ke arah manapun, pasti dia tuju. Rintangan hambatan yang ada di sepanjang perjalanannya dia lewati terus tanpa henti sambil otaknya terus berputar untuk terus menemukan celah.. Diapun berjalan tanpa kenal waktu, siang malam, panas hujan, jalan terus.... tidak kenal lelah sampai terbentur jalan yang benar-benar buntu, tanpa celah. Dia diam di sana. Namun dalam ke-diam-annya itu dia sebetulnya tidak hanya berleha-leha, bersantai-santai, menghilangkan capek, tapi dia sebetulnya tengah berkumpul, dan berkumpul bersama teman-temannya untuk menghimpun kekuatan.
Kekuatan yang maha dahsyat yang bila saatnya tiba dia akan keluarkan dan tampakkan kepada khalayak bahwa dia bersama teman-temannya itu adalah sebuah kekuatan yang harus diperhitungkan. Ingat peristiwa Tsunami dan Situgintung. Disana air adalah tokoh utamanya yang mempunyai kekuatan maha dahsyat.
Dalam hidup ini kita harus punya tujuan, mungkin awalnya tujuan-tujuan kecil yang merupakan tujuan jangka pendek. Tujuan-tujuan itu kita arahkan untuk satu tujuan puncak. Yang mana itu adalah titik akhir perjalanan kita nanti. Dalam perjalanannya untuk mencapai itu bisa dilakukan sendiri ataupun bersama rekanan yang seide dengan kita. Ayo kerja, ayo kejar, ayo terus bakar semangat kita.
Lebah, serangga penghasil madu. Memberikan kenikmatan dan kesehatan buat orang lain. Dimanapun dia hinggap tidak ada satu rantingpun yang patah olehnya, karenanya dia tidak dibenci oleh lingkungan tempat yang didatanginya. Jelas itu kan.
Ikan asin, makhluk yang hidup di air laut yang asin. Di sana dia tidak hanya satu jam, satu hari atau beberapa tahun. Selama dia masih bernyawa di laut lah mereka tinggal dan hidup. Tapi herannya daging mereka tidak serta merta rasanya asin seperti rasa air tempat hidupnya. Bahkan untuk dijadikan asin rasa dagingnya itu oleh para nelayan dikasih garam lagi. Begitulah kita mesti hidup, bagaimanapun kondisi, keadaan dan corak lingkungan dimana kita tinggal, jangan semuanya kita serap dan kita terapkan dalam diri kita. Tapi mesti kita saring, kita pilah, bolehlah yang bagusnya kita ambil dan yang jeleknya dipendam yang dalam biar tidak dikais-kais kucing atau orang, biar kejelekannya tidak lantas ditiru yang lain.
Sebetulnya masih banyak lagi kiasan-kiasan yang bisa kita pakai, tapi yang nyerep di otak saya khususnya hanya empat itulah. Tapi bila kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, insya Allah akan sangat bermanfaat dan berfaedah.
Ayo kita terapkan.
Saya juga lagi terapkan meskipun sedikit-sedikit. He… he… he…

Rabu, April 29, 2009

Launch www.share-programkoe.blogspot.com

Ilmu tak beramal (tidak diamalkan) ibarat pohon tak berbuah. Itu nasehat guru ngaji saya waktu kecil dulu. Sudah 30 tahunan berlalu, tapi kalimat itu masih tetap melekat di kepala ini, sampai-sampai bagaimana sang guru dengan lantang dan berapi-apinya menekankan kalimat itu masih terdengar sangat jelas meraksuk ke gendang telinga.
Ilmu sekecil apapun akan jauh lebih berguna kalau diamalkan daripada ilmu yang banyak tapi hanya diumpetin di kepala sendiri. Itulah prinsip yang saya pakai sekarang yang kira-kira sejalan dengan nasehat guru saya itu. Nah.... mengingat modal berupa uang, saya tidak punya, kan tidak mungkin untuk membuka tempat kursus, maka saya pikir dengan jalan ngeblog beginilah saya bisa mengamalkan ilmu saya yang sedikit ini. Mudah-mudahan ada gunanya buat yang membacanya.
Tapi sebelumnya saya mohon maaf bukan mau menggurui rekan-rekan yang sudah lebih duluan tahu. Saya cuman mau membagikan ilmu buat rekan-rekan yang belum tahu dan ingin tahu saja, dan buat saya sendiri sebagai penyegaran kembali ilmu di kepala saya.
Baiklah rekan, untuk yang pertama saya akan bahas program Page Maker versi 7.0 yang alhamdulillah dengannya saya bisa mencari uang buat makan, juga buat keluarga. Karenanya dengan hanya memahami satu program ini saja, insya Allah kita sudah bisa mencari sepeser dua peser, buat dijadikan pekerjaan pokok ataupun sampingan.
Tapi.... ada tapinya nih.... saya tidak bakalan bahas dalam blog ini karena akan panjang lebar dan memakan beberapa kali postingan, silakan kunjungi saja blog saya yang lain: www.share-programkoe.blogspot.com.
Akhirnya saya ucapkan selamat mengikuti.
Salam.

Rabu, April 22, 2009

Jalan(empat)ku

Musibah menghinggapi kami lagi, setelah anak saya yang gede dinyatakan sembuh, terus anak kami yang ketiga kena DBD (kata dokter di Puskesmas, malah langsung harus di rawat di rumah sakit). Bagaimana tidak gemetaran ini lutut. Uangnya dari mana buat merawatnya? Buat cek laboratorium dan pemeriksaan awal saja saya harus mengorbankan tidak bayar cicilan rumah dulu.
Sudahlah saya putuskan untuk berobat di rumah saja dengan membeli obat-obatan dengan menggunakan uang cicilan rumah, dan berkonsultasi terus dengan istri Bos saya di kantor RS yang kebetulan sebagai dokter spesialis anak. Dan alhamdulillah berlalu juga cobaan itu, anak saya sudah dinyatakan sembuh sekarang, meskipun sekarang giliran dari pihak BTN yang ngejar terus karena cicilan rumah yang sudah tidak terbayar selama beberapa bulan. Gak apa-apalah, mudah-mudahan saja para penggede BTN yang juga manusia, yang juga mempunyai hati nurani, dan mereka punya anak. Sehingga bisa merasakan harus bagaimana kalau berada dalam kondisi seperti saya ini. Lebih memilih bayar rumah tapi anak sakit, atau meningan anak sembuh tapi bayar rumah ditunda. Sebetulnya seh, maunya hati ini, anak sembuh, cicilan rumah terbayar…..
Kondisi terakhir sekarang, saya tersudutkan oleh perjanjian kepada Bapak Kolonel yang meminjamkan uang kepada saya. Jatuh temponya akhir bulan ini, April 2009.
Sebetulnya awal-awalnya saya canangkan untuk mengganti uang beliau itu dari uang asuransi jiwa yang sudah jatuh tempo pada Oktober 2008 lalu, tapi berhubung PT. asuransi yang saya ikutin itu ternyata dinyatakan tidak sehat dan dilikuidasi pemerintah, tinggallah kami (sebagai nasabah) beberapa kali harus makan janji dari PT itu, entar pertengahan Desember 2008, entar Januari tanggal 20-an, entar pertengahan Maret 2009, sampai sekarang, masih entar-entar lagi aja. Padahal saya sangat membutuhkannya pada saat-saat ini.
Terus dana tambahannya mau pinjam dari kantor RS, yang memang sudah beberapa tahun ini saya sebagai karyawan diberikan pinjaman lunak. Tapi keadaan kantor RS sekarang lagi di ujung tanduk, lagi diaudit. Akan dipindah tangankan dari pimpinan lama kepada pimpinan baru. Sementara proses audit ini kami sebagai karyawan sebetulnya berjalan tanpa ada pimpinan, sudah 3 bulan ini. Dan setelah itu entah bagaimana lagi kiprah saya di perusahan itu. Entah mau dipakai lagi oleh pimpinan yang baru, atau malah ditendang…. Meskipun masa kerja saya di sana sudah hampir 15 tahun. Yah… namanya pimpinan…. Dimanapun biasanya suka-sukanya beliau saja, mau diapakan bawahannya.
Jadi…… sekarang ini otak saya ini sebetulnya sudah harus muter gimana lagi menghadapi ‘tersudutnya’ keadaaan….. apakah harus saya jual lagi itu rumah untuk mengembalikan uang pak Kolonel, tapi resikonya kami harus pindah lagi, entah kemana lagi karena kami sudah tidak punya rumah. Atau harus bagaimana….

Berawal dari keadaan yang memaksa inilah saya tergerak untuk belajar ber-internet ria…. Karena yang saya denger kalau orang-orang internet itu pinter-pinter, karena datang dari berbagai keahlian dan kecakapan masing-masing. Kali aza ada temen-temen yang bisa memberi masukan saran atau pendapatnya, untuk blog saya atau untuk pribadi kehidupan saya….
Untuk itu saya sangat, sangat mengharapkan sekali masukannya…
(habis)

Jumat, April 17, 2009

Jalan(tiga)ku

Satu setengah tahun kami tinggal di rumah petak kontrakan berukuran kecil di bilangan Kramat Pulo Gg.17. Lingkungannya yang sudah sesak dan kumuh tidak menyurutkan kami untuk numpang hidup di sana, itupun karena keadaan pula yang memaksa. Kami tidak punya lagi uang buat ngontrak rumah yang lebih layak. Untungnya anak kami yang gede diterima masuk di sebuah SMP Negeri di daerah Mardani, dan anak yang ketiga masuk di SD Negeri tidak jauh dari rumah kontrakan kami. Kalau yang kedua memang semenjak kecil sudah diurusin oleh orang tua saya di Bandung, dan disekolahin di sana.
Di Jakarta sudah diberlakukan peraturan bahwa SD dan SMP Negeri tidak dipungut biaya. Alhamdulillah saya ucapkan kepada pemerintah yang sedikit meringankan beban di pundak kami.
Namun tidak berlangsung lama ketenangan kami, karena pada bulan ke 2 kontrak di sana, anak kami yang gede kena hepatitis, karuan kami harus comot sana comot sini nyari biaya untuk ngobatinnya, yang berlangsung sekitar 4 bulanan. Korbannya, uang buat bayar kriditan motor terpakai terus. Semenjak itulah kami diuber-uber penagih dari dealer motor. Apa boleh buat kami cuman bisa janji-janji terus, sambil merayu-rayu para penagih biar tidak galak-galak dan mau ngertiin keadaan kami.
Jangankan untuk bayar cicilan motor, buat makanpun kami mengandalkan dari pendapatan ngojek malam itu, yang keseringannya kurang atau tidak dapat sama sekali. Hal itu kerap sekali terjadi, yang pada akhirnya keadaan di rumahpun rasanya sudah tidak nyaman lagi, terutama yang saya rasakan sebagai pribadi, karena tiap hari dalam keadaan ngantuk berat habis begadang semalaman, pulang disediain muka istri yang kusut dan manyun (cemberut) karena jatah masak tidak mencukupi. Dan sering pula pagi-pagi begitu kami bertengkar karena itu, dan sayapun terpaksa berangkat kesiangan masuk kantor di RS itu. (Maaf, ya teman-teman sekerjaan dan Bapak-bapak Bos).
Setiap harinya, saya hanya bisa tidur di tempat kerjaan RS saja, yaitu jam makan siang dan sore sesudah bubaran kantor sampai menjelang Maghrib, karena selepas Maghrib sayapun melanglangbuana di jalanan Jakarta lagi. Untungnya saya sudah terbiasa waktu Pramuka dulu kalau jadwal makan saya tidak teratur, sekarang malah tambah tidak teratur lagi. Tapi saya selalu berdo’a mudah-mudahan penyakit-penyakit seperti maag, types dan sejenisnya tidak sampai menghinggapi saya. Dan rupanya mereka ternyata ngertiin juga kalau saya jarang makan karena terpaksa dan tidak punya uang buat berobat ke dokter.
Karena hubungan baik antara saya dengan kenalan-kenalan dari Angkatan cukup terjaga baik, sesekali alhamdulillah saya suka dipanggil ke Pusat Sejarah TNI yang ada di jalan Gatot Subroto untuk membuat majalah, buku dan lainnya. Dan saya pun kenal dengan Kepalanya, Waka nya, staf-stafnya sampai kepada sebagian karyawannya di sana. Mereka itu ternyata hanya kelihatan ‘sangar’ di luar nya saja, saat berpakaian dinas dan lagi tugas. Tapi kalau sedang tidak tugas seh, kayak rakyat biasa saja rupanya. Mungkin di semua angkatan juga begitu kayaknya. Penilaiain ini mungkin tidak berlebihan karena di kantor Pusat Sejarah ini karyawannya merupakan perwakilan dari 3 Angkatan Bersenjata, kecuali kepolisian.
Yang mengharukan sekali dan saya sangat salut sekali kepada Wakanya yang dari Angkatan Udara, berpangkat Kolonel, walaupun baru beberapa kali bertemu, itupun diperkenalkan oleh bawahannya yang berpangkat Kapten. Beliau begitu respek dan mau memperhatikan keadaan perekonomian keluarga saya. Buktinya…. (walaupun dengan takut-takut dan menghiba pada awalnya) saya meminta bantuan pada beliau untuk meminjamkan uang buat membeli rumah over kredit di perumahan daerah Cibarusah, Bekasi. Tanpa takut-takut dan ragu-ragu, beliau meluluskannya. Bayangin, baru beberapa kali bertemu, sudah mau meminjamkan uang sekian juta rupiah kepada saya, yang bukan bawahannya, yang bukan berasal dari kantor beliau. Tanpa sedikitpun jaminan atau apalah namanya, begitu mudahnya menyodorkan uang kepada saya. Subhanallah, sungguh-sungguh luar biasa. Beliau hanya menanamkan kepercayaan semata kepada saya. Insya Allah Pak, kepercayaan itu tidak akan saya kotorin sedikitpun buat Bapak.
Bermodal dari uang itu, kami membeli rumah over kredit yang masih harus melanjutkan membayar kreditnya sekitar 7 tahun lagi. Tinggallah kami di sana sampai saat ini.

(masih bersambung nih….. )

Kamis, April 16, 2009

Jalan(dua)ku

Alhamdulillah, dalam masa pencarian itu seorang teman dari percetakan itu yang memang telah lebih dulu pindah kerja, menunjukkan saya untuk melamar di sebuah Koran harian terkenal punyanya Angkatan Darat, mungkin kalau anda orang lama pasti sudah mafhum. Karena Koran ini satu-satunya Koran yang diperbolehkan meliput kejadian Gestapu dulu itu. Koran itu terbit pagi, makanya di-compos nya pada malam hari sehingga jadwal kerja di RS saya tidak terganggu, dan disinipun saya bisa jalan. 12 bulan saya disana, tragedi pun datang tiba-tiba, Koran itu bangkrut. Sayapun jadi bingung lagi untuk mencari tambahan buat dapur, karena anak saya sudah 2 orang sekarang.
Alhamdulillah lagi saya dipanggil kerja malam oleh sebuah biro jasa setting-cetak, kepunyaan seorang ex PNS, yang mana kerjaannya lebih banyak dari Angkatan Darat. Dari sinilah saya mulai kenal-kenal dengan beberapa petinggi 4 Angkatan yang ada di negeri ini. Yang kadang-kadang saya tersipu-sipu malu kalau datang ke kantor mereka, yang mana saya dihormati oleh bawahan beliau-beliau, karena yang saya datangi adalah atasan mereka. Padahal saya ini apa, pangkat kopral pun (maaf) gak pernah saya sandang. Memang terkadang manusia kurang melek untuk membedakan mana orang yang bener-bener intelek atau kelihatan intelek padahal bokek kayak saya ini.
Hampir 5 tahun saya kerja di sana. Sayang sekali perusahaan itupun bangkrut juga. Ya sudahlah saya bingung lagi.
Semenjak itulah saya tidak punya kerjaan tambahan lagi, sementara kebutuhan dapur terus-terusan memaksa untuk dipenuhi dan disesuaikan dengan kenaikan harga-harga pasar.
Apa boleh buat tiap malam selepas kerja di RS itu saya mesti mencari-cari ‘mangsa’ yang mau dianterin ke suatu tempat dengan sepeda motor. Istilah ‘keren’nya jadi tukang ojek motor yang beraktivitas dari selepas Isya sampai bubaran Shubuh. Banyak sekali suka dukanya ternyata, tapi dukanya lebih banyak kalau ditimbang-timbang. Apalagi dalam bulan-bulan ini cuacanya tidak mendukung buat kerjaan kami. Hujan, hujannnn…. Terusss.
Penumpang pun lebih memilih tinggal di rumah, kalau malam hari hujan begini. Atau kalau pun terpaksa keluar, mereka lebih memilih taksi ataupun bajaj, dibanding memilih kami yang sudah berjam-jam, terkantuk-kantuk, menunggu belas kasihan mereka untuk datang memakai jasa kami. Begitulah derita para tukang ojek motor. Kalau bisa anda jangan sampai berminat menjalani profesi ini.
Dulu waktu saya di percetakan, masih bujangan, alhamduillah dari hasil keringat sendiri, dan insya Allah halal semua, saya bisa mengumpulkan uang sepeser demi sepeser dan jadilah sebuah rumah petak kecil di sebuah gang di bilangan Kampung Rawa.
Lalu kami (saya dan istri yang lagi menunggu kelahiran anak kami ke 3) pindah ke sebuah desa di ujung sana, Susukan nama desa itu, letaknya di daerah Citayam-Bogor. Trus dari sana pindah ke perumahan yang letaknya lebih ke depanan, namanya Puri Bojong Lestari. Kurang lebih 6 tahunan saya merantau di daerah itu. Untuk selanjutnya mengingat saya kecapaian kalau pulang kerja dari Jakarta yang keseringannya sampai rumah menjelang Shubuh, sementara pagi-paginya sudah mesti berangkat lagi kerja di RS. Maka kami memutuskan untuk pindah kembali ke Jakarta. Dan….. tragedipun terjadi.
Kami ditipu orang, oleh yang mau jual rumah di salah satu sudut Jakarta (ikuti postingan selanjutnya “Oh... Rumahku....”) . Hilanglah sudah rumah kami, harapan kami, uang kami, semuanya, amblas…. blas… blas… Yang akhirnya kami hanya tinggal di sebuah rumah petak kecil yang statusnya kontrak.
Memang Jakarta ini ganas, ternyata saya yang sudah lama merantau di kota ini, apalagi istri saya yang asli dilahirkan di kota ini…. Bisa tertipu mentah-mentah setelah mau balik lagi ke kota ini. Bener-bener menyakitkan.
(cape deh…… entar sambung lagi yah…)

Rabu, April 15, 2009

Jalan(satu)ku

Perkenalkan nama saya, Asep Suhendar, umur sudah mencapai kepala 4, dan buntutpun sudah ada 4 orang. Alhamdulillah istri sudah punya satu. Sekarang bekerja pada sebuah perusahaan pers swasta, yang pemiliknya notabene para dokter spesialis berikut ikatan dokter spesialisnya sendiri.
Tujuan saya ikutan ngeblog adalah untuk mencari teman, belajar ber-internet, belajar membuat naskah/artikel yang mudah-mudahan berguna bagi teman-teman yang iseng kebetulan membuka blog saya, yang pada ujungnya mudah-mudahan bisa menghasilkan uang tambahan buat nutupin kekurangan jatah dapur yang semakin hari semakin memberatkan beban di kepala saya. Tapi tujuan lainnya yang tidak kalah penting adalah berbagi ilmu, soalnya kalau saya sengaja mau buka tempat kursus perlu modal banyak, dan belum tentu ilmu saya setara dengan para instruktur di tempat2 kursus lain... mungkin kalo di blog begini saya bisa berbagi ilmu dengan teman-teman pembaca secara gratis. Ilmu itu sekecil apapun akan jauh lebih berguna kalau diamalkan daripada ilmu yang banyak tapi hanya diumpetin di kepala sendiri. Itulah prinsip yang saya pakai.
Sebelum saya mulai berbagi ilmu saya akan berbagi dulu 'penderitaan' saya, mungkin ada penulis skenario yang tergerak mau mengorbitkan 'penderitaan' saya he...he..he..

Pekerjaan sekarang saya di bagian Tata Muka, di kantor lain ada yang menyebutnya bagian Composing atau Tata Letak atau Lay-out atau Design atau Setting atau PH, pokoknya berhubungan dengan desktop publishing gitu...... kayak mendesain majalah, buku, poster, pamplet, dll dari mulai ngetik, desain sampai jadi di print gitu.....
Memang background sekolah saya adalah dari STM Listrik, trus pernah ngenyam pendidikan institut bagian programmer di Bandung, hanya 2 semester.... keburu DO karena (terus terang) orang tua saya tidak mampu lagi untuk bayar kuliah saya. Saya lanjutkan pendidikan di Depnaker (belajar gratis!) untuk melancarkan 10 jari saya biar lincah di atas huruf-huruf mesin tik, lalu belajar Manajemen Mandiri masih di Depnaker.... maklum keinginan untuk belajar masih kuat tapi modal tidak kuat...
Saya melamar di PLN, beberapa kali testing, akhirnya gagal. Trus melamar di Pos Giro, sammma gagal juga setelah beberapa tahap ikutan tes.... entahlah... mungkin memang karena nilai ijazah saya yang tidak bisa mendukung atau memang faktor nasib..... saya harus menyerah...
Tapi, daripada duduk-duduk saja di rumah, saya aktifkan saja di kegiatan kepramukaan (melanjutkan karier pramuka yang sudah saya tekuni sejak kelas 6 SD), saya menjadi Pradana di STM, menjadi Ketua Satuan Karya Bhayangkara di Ranting/Kecamatan dan menjadi Ketua Periodik Satuan Karya Wana Bhakti Cabang/Kotamadya. Sesekali suka bantu-bantu menjadi Pembina cadangan untuk Pramuka di SMP dan SMA di sekitar kecamatan tempat saya tinggal.
Saya pernah bekerja borongan sebagai kuli pengrajin ukiran kayu pada sebuah perusahaan kecil di bilangan Andir, Bandung Kulon, lalu kerja di Toko Listrik di Cikapundung di bagian Administrasinya-operator komputer. Lalu malang melintang pindah ke Jakarta (itupun karena dibawa oleh Paman saya) bekerja di sebuah instansi berbasis dakwah Islam di bilangan Jl. Kramat Raya, di sana saya bekerja serabutan juga, ya sebagai penerima tamu, instalasi listrik, penyortir surat pokoknya bagian bantuan umumlah.... yang dikemudian hari saya lobby para Sesepuh disana untuk membeli komputer barang satu dulu lah.... Setelah melewati proses panjang akhirnya para Sesepuh menyetujui dan membeli satu set komputer dimana saya sebagai operator dan sekaligus penanggung jawab alatnya. Dari sana mulailah saya mengembangkan karir di bidang komputer.
Pertama kali saya dibelikan komputer IBM PC, lalu setelah bagian lain dibelikan juga (dimana saya dijadikan instruktur buat para Ustadz yang mau belajar komputer di sana), lalu dibikinlah sub kantor untuk menambah Devisa buat kantor itu sebuah Biro Jasa Setting, saya sebagai kepala produksinya juga sebagai instruktur karyawan lain, apalagi saat itu saya dibelikan juga komputer berjenis Macintosh yang buat karyawan lain adalah barang baru lagi.... karena IBM PC saja masih termasuk barang baru, ada lagi yang baru nih...
Disamping bekerja di sana, saya pun bekerja pada sebuah percetakan besar, di bilangan Palmerah Barat. Jadi kalau saya di percetakan kerja shift siang, saya bekerja di kantor Kramat bagian malam. Kalau di percetakan kena shift malam, saya di Kramat masuk pagi. Begitulah terus berlanjut sampai 5 tahunan.
Selepas dari kantor Kramat, saya bekerja di salah satu Rumah Sakit di bilangan Jl. S. Parman, yakni kantor saya sampai saat ini. Yang mana dulu itu, kalau saya kerja sore di percetakan, di sini saya masuk pagi, dan kalau di percetakan masuk pagi, di kantor ini saya tidak masuk. Jadi dalam satu bulan saya hanya masuk 2 minggu, jadi sistim part time gitu lah....
Begitu ada ultimatum dari pemerintah "Breidel" majalah yang merupakan sumber utama pemasukan cetakan di percetakan kami, percetakan kami agak limbung.... dan saya ditarik kerja penuh di kantor RS ini.
Tapi karena saya sudah terbiasa kerja siang malam, rasanya gak bisa kalo pulang kerja cuman sekedar tiduran di rumah, maka saya nyari sampingan bekerja malam hari lagi....... (sampai di sini dulu.... saya cape ngetiknya yah)

Salam

Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.