Selasa, Januari 17, 2012

SIAPA DIINJAK SIAPA


Sebuah pohon pinang atau bambu yang sudah tidak ada lagi dahan, ranting atau daunnya, tinggi menjulang, licin dan mengkilat. Didirikan di tengah lapangan. Batangnya dilumuri oleh pelumas oli, di ujung atas batang itu digantungkan berbagai hadiah, baik berupa benda-benda ataupun lembaran2 kertas yang tertuliskan disana hadiah apa yang telah disiapkan panitia. Para peserta perlombaan harus berjuang mencapai hadiah2 dengan cara memanjat batang pohon itu.

Oleh karena batang pohon itu licin, para pemanjat sering kali jatuh merosot walaupun batang yang dipanjat sudah tinggi. Atraksi inilah yang menarik bagi para penonton.

Hanya akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon.

Sebagian besar rakyat Indonesia percaya permainan panjat pinang ini adalah sebuah tantangan pendidikan yang mengajarkan orang untuk pandai bekerjasama, bekerja keras dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan mereka. Tetapi sebagian yang lain menilai permainan ini adalah tampilan merendahkan dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang mengirimkan pesan yang salah kepada kaum muda Indonesia.

Bagi saya pribadi, lebih setuju dengan penilaian yang kedua. Karena coba saja anda perhatikan, dalam rangka untuk mencapai ke puncak itu, seorang pemanjat harus berdiri di atas bahu pemanjat lain yang ada di bawahnya. Yang giliran diatas seringkali tidak sadar dan tanpa sengaja menginjak wajah atau kepala orang yang di bawahnya. Hanya karena ingin menggapai hadiah2 itu, dia harus menginjak-injak bahu atau kepala orang lain. Sedang pemanjat yang dibawah harus merelakan bahu atau kepalanya diinjak orang yang diatasnya. Sungguh pemandangan yang sebetulnya tidak bagus untuk ditonton dan dicermati.

Hal yang hampir sama seperti permainan ini sebetulnya sudah sering terjadi pada kehidupan nyata, yang mana sudah banyak kita lihat dan dengar, orang2 yang sudah tidak menghiraukan lagi cara yang dia pakai demi mencapai kepuasan diri dan kebahagiaan pribadi, dia main sikut kanan, sikut kiri biarlah orang lain tersungkur jatuh karena ulahnya. Dia tak perduli menginjak2 hak dan kebebasan pribadi orang lain, terkadang sampai melecehkan orang lain, bahkan hukum pun dia kangkangin. Biarlah bawahan hampir sekarat asalkan dia hidup tidak melarat. Untuk orang seperti ini, Doel Sumbang bilang pada sebuah lirik lagunya: “biar saja orang lain berantakan, mau ini ke… mau itu ke… masa bodoh, yang penting aku bisa senang sendiri………”.

Apalagi kalau kita melirik ke belakang, kepada sejarahnya permainan panjat pinang ini

Konon permainan ini berasal dari zaman penjajahan Belanda. Orang-orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain.suka mengadakan acara panjat pinang. Yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi yang nota bene dihimpit ekonomi dan menganggap hadiah2 yang tergantung seperti bahan makanan: keju, gula dan pakaian seperti kemeja adalah barang2 yang termasuk mewah.

Sementara orang2 pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah2 itu, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa, karena merasa terhibur atau mungkin sebagiannya merasa ‘aku lho’ diatas penderitaan orang-orang terjajah.

Apa kita tidak sadar kalau permainan ini adalah permainan pencemoohan para penjajah kepada kita sebagai orang pribumi yang waktu itu sebagai terjajah. Ko, malah permainan ini dilestarikan sampai sekarang bahkan dijadikan sebuah permainan yang hampir dianggap sebagai permainan pokok saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.
Sekarang sudah saatnya kita memilih dan memilah, mana permainan2 tradisional rakyat kita yang memang perlu untuk dilestarikan secara turun temurun dan mana yang harus kita ‘apkir’ cukup sampai disini saja, masih banyak jenis permainan yang bisa menantang dan mendidik yang bisa kita terapkan dalam kehidupan nyata.
Mohon maaf tulisan ini harusnya ditayangkan saat menjelang 17 an, tapi berhubung kesibukan dan lain hal baru saya tayangkan sekarang.
Apa tanggapan anda?

Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.