Selasa, Januari 17, 2012

SIAPA DIINJAK SIAPA


Sebuah pohon pinang atau bambu yang sudah tidak ada lagi dahan, ranting atau daunnya, tinggi menjulang, licin dan mengkilat. Didirikan di tengah lapangan. Batangnya dilumuri oleh pelumas oli, di ujung atas batang itu digantungkan berbagai hadiah, baik berupa benda-benda ataupun lembaran2 kertas yang tertuliskan disana hadiah apa yang telah disiapkan panitia. Para peserta perlombaan harus berjuang mencapai hadiah2 dengan cara memanjat batang pohon itu.

Oleh karena batang pohon itu licin, para pemanjat sering kali jatuh merosot walaupun batang yang dipanjat sudah tinggi. Atraksi inilah yang menarik bagi para penonton.

Hanya akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon.

Sebagian besar rakyat Indonesia percaya permainan panjat pinang ini adalah sebuah tantangan pendidikan yang mengajarkan orang untuk pandai bekerjasama, bekerja keras dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan mereka. Tetapi sebagian yang lain menilai permainan ini adalah tampilan merendahkan dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang mengirimkan pesan yang salah kepada kaum muda Indonesia.

Bagi saya pribadi, lebih setuju dengan penilaian yang kedua. Karena coba saja anda perhatikan, dalam rangka untuk mencapai ke puncak itu, seorang pemanjat harus berdiri di atas bahu pemanjat lain yang ada di bawahnya. Yang giliran diatas seringkali tidak sadar dan tanpa sengaja menginjak wajah atau kepala orang yang di bawahnya. Hanya karena ingin menggapai hadiah2 itu, dia harus menginjak-injak bahu atau kepala orang lain. Sedang pemanjat yang dibawah harus merelakan bahu atau kepalanya diinjak orang yang diatasnya. Sungguh pemandangan yang sebetulnya tidak bagus untuk ditonton dan dicermati.

Hal yang hampir sama seperti permainan ini sebetulnya sudah sering terjadi pada kehidupan nyata, yang mana sudah banyak kita lihat dan dengar, orang2 yang sudah tidak menghiraukan lagi cara yang dia pakai demi mencapai kepuasan diri dan kebahagiaan pribadi, dia main sikut kanan, sikut kiri biarlah orang lain tersungkur jatuh karena ulahnya. Dia tak perduli menginjak2 hak dan kebebasan pribadi orang lain, terkadang sampai melecehkan orang lain, bahkan hukum pun dia kangkangin. Biarlah bawahan hampir sekarat asalkan dia hidup tidak melarat. Untuk orang seperti ini, Doel Sumbang bilang pada sebuah lirik lagunya: “biar saja orang lain berantakan, mau ini ke… mau itu ke… masa bodoh, yang penting aku bisa senang sendiri………”.

Apalagi kalau kita melirik ke belakang, kepada sejarahnya permainan panjat pinang ini

Konon permainan ini berasal dari zaman penjajahan Belanda. Orang-orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain.suka mengadakan acara panjat pinang. Yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi yang nota bene dihimpit ekonomi dan menganggap hadiah2 yang tergantung seperti bahan makanan: keju, gula dan pakaian seperti kemeja adalah barang2 yang termasuk mewah.

Sementara orang2 pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah2 itu, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa, karena merasa terhibur atau mungkin sebagiannya merasa ‘aku lho’ diatas penderitaan orang-orang terjajah.

Apa kita tidak sadar kalau permainan ini adalah permainan pencemoohan para penjajah kepada kita sebagai orang pribumi yang waktu itu sebagai terjajah. Ko, malah permainan ini dilestarikan sampai sekarang bahkan dijadikan sebuah permainan yang hampir dianggap sebagai permainan pokok saat perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.
Sekarang sudah saatnya kita memilih dan memilah, mana permainan2 tradisional rakyat kita yang memang perlu untuk dilestarikan secara turun temurun dan mana yang harus kita ‘apkir’ cukup sampai disini saja, masih banyak jenis permainan yang bisa menantang dan mendidik yang bisa kita terapkan dalam kehidupan nyata.
Mohon maaf tulisan ini harusnya ditayangkan saat menjelang 17 an, tapi berhubung kesibukan dan lain hal baru saya tayangkan sekarang.
Apa tanggapan anda?

Senin, September 05, 2011

LEBARAN YANG BERAGAM

Hari ini Senin, 29 Agustus 2011, aku bersama anakku yang paling gede berangkat ke Bandung, mencoba-coba mudik Lebaran dengan menggunakan kereta odong-odong, yakni kereta rakyat yang murah meriah, dari stasiun Cikarang Bekasi menuju stasiun Purwakarta. Nanti dari Purwakarta ganti kereta yang menuju ke Cibatu Garut, dan turunnya di stasiun Bandung.

Lebaran tahun ini adalah lebaran yang paling prihatin buat keluargaku, karena uang THR yang didapat dari kantor dimana aku kerja, hanya dicairkan satu bulan gaji pokok saja. Padahal, ini padahalnya…. Uang THR ini sudah dari jauh-jauh harinya dicanangkan sebagiannya buat nutupin utang-utang kepada tetangga yang aku pinjam buat anak sekolah dan buat modal dagang di warung kecilku.

Ada dua alasan memang yang membuat aku ambil keputusan berangkat berdua saja sama anak ke Bandung dan merayakan lebaran disana bersama orang tuaku, sedangkan istri bersama 3 anak lainnya berlebaran di Jakarta di rumah orangtuanyanya alias mertoku. Alasan pertama yaitu tadi karena Uang THR yang tidak memungkinkan buat ongkos pulang rame-rame ke Bandung, dan yang keduanya karena anakku yang baru 14 bulan sudah diwanti-wanti sama dokter yang pernah merawatnya di rumah sakit agar anak itu jangan dulu diajak jalan jauh-jauh, agar kondisinya tidak lebih parah dari sekarang. Anakku pernah kejang-kejang beberapa hari lalu sampai-sampai harus dilarikan ke rumah sakit, untung saja tidak sampai dirawat.

Kalau aku tidak pulang berlebaran di Bandung, aku tidak tega sama orang tuaku, karena tahun lalu saja kami berlebaran di Jakarta, sedangkan aku adalah anak satu-satunya yang mereka punya. Gimana perasaan mereka kalau melihat orang-orang lain yang punya banyak anak dan jauh-jauh tinggalnya bisa pada ngumpul semua, sedangkan orangtuaku yang hanya punya anak aku seorang, tinggal tidak begitu jauh dari Bandung, tidak bisa pulang. Satu alasan tambahan kenapa aku harus berlebaran di Bandung, karena anakku yang kedua yang aku titipkan di orang tuaku semenjak bayi… diapun mengharapkan kami pulang saat lebaran ini.

Alhamdulillah, dalam kereta api semenjak dari Cikarang, sampai di Purwakarta, dan disambung lagi menuju ke Bandung, enak sekali rasanya, tidak penuh sesak seperti biasanya, malahan bisa selonjoran sampai bosen sendiri. Kata orang-orang yang sehari-hari naik kereta itu, kalau kemarin-kemarinnya padat sekali, tapi hari ini karena hari takbiran, yang pada pulang mudik sudah habis, jadi tinggal sisa-sisanya saja yang ada dalam kereta ini sebagai penumpang mudik, termasuk aku bersama anakku.

Sampai di Bandung, berbagai persiapan untuk menyambut datangnya hari Lebaran di keesokan harinya sudah dimulai sejak pagi, dari mulai membuat ketupat, membuat sayur lauknya ketupat, bersih-bersih rumah dan perabotan di ruang tamu sampai ke menyisihkan sebagian beras secukupnya buat zakat fitrah.

Saat tiba waktunya berbuka puasa di hari terakhir itu, kami jalani sebagaimana biasanya, dengan penuh sukacita meskipun dengan hidangan seadanya. Maklum keluargaku bukanlah keluarga keturunan orang berada. Dan meskipun ada lauknya yang istimewa, kan itu jatah buat hari Lebaran besok hari.

Baru pada saatnya dikumandangkannya azan Isya, masyarakat di sekitar tempatku berada pada kebingungan, setelah shalat Isya apa langsung mau mengumandangkan takbiran atau harus shalat tarawih lagi, karena pengumuman dari Menteri Agama RI sebagai acuan untuk menentukan besok lebaran tidaknya belum juga kunjung terdengar.

Tapi begitu yang ditunggu-tunggu itu tiba, pengumuman itu, banyak orang yang terperangah, bingung, “1 Syawal yang tertera di kalender tanggal 30 Agustus itu diundur menjadi tanggal 31 Agustus lusa”.

Banyak masyarakat yang sudah berkumpul untuk melaksanakan takbiran keliling akhirnya bubar, ada pejabat yang terpaksa meralat jadwal open house, dengan sendirinya pihak penyedia tempat dan makanan harus menanggung resiko kerugian akibat dimundurkannya hari ‘H’ nya itu. Pelaksanaan Shalat Tarawih terpaksa diundur sampai jam 8 lewat, padahal biasanya kan dilaksanakan begitu selesai shalat Isya.

Ada ustad yang hidupnya pas-pasan karena hidupnya terlalu jujur, terpaksa harus menambal lagi nyari nafkah dari kerjaan sampingan untuk nutupin satu hari lagi berpuasa, padahal sudah siap-siap untuk menerima imbalan dari khutbah Idul Fitrinya pada hari besok yang memang sudah dicanangkan buat keperluan lebaran.

Ada masyarakat yang terpaksa harus mengelus dada dan menahan dagu begitu tibanya hari ‘H’ nya lebaran itu, karena biaya buat lebaran yang memang pas-pasan sudah dibelanjain semua buat lebaran tgl 30 Agustus, terpaksa dimakan dan dipakai di hari terakhir bulan puasa, dan pada hari lebarannya yang tgl 31 Agustus itu harus nahan lapar.

Gak jauh berbeda dengan keadaan keluargaku, aku sudah ditelponin bini dari Jakarta yang katanya sudah kehabisan uang dan makanan buat hari lebaran yang diundur itu. Puyenglah jadinya aku. Pening…. Pening….. begitu kata bang Poltak.

Dari sisi keagamaan memang dengan diundurnya hari Lebaran itu jadi untunglah kita karena nambah satu hari lagi peluang buat beribadah di bulan Ramadhan ini, tapi disisi yang lain…. Ya…. Itu tadi…. Pening… pening…… peninglah aku…

Memang kejadian Lebaran yang berbeda-beda ini sudah seringkali terjadi di negeri ini, yang paling parah yah tahun 2011, gimana tidak masa’ ada yang lebaran hari Senin, Selasa, Rabu, bahkan hari Kamis.

Selaku orang awam seperti saya ini, hanya bisa berharap kapan di negeri ini para pemimpin agama Islam ini bisa bersatu, paling tidak bisa menyatukan pendapat dan menggiring umatnya dalam persatuan. Jangan sampai kejadian yang diramalkan Nabi Besar Muhammad SAW dulu dalam sabdanya: akan tiba masanya dimana umat Islam ini besar sekali tapi seperti buih di lautan, yang mudah sekali dicerai beraikan oleh ombak atau umat lain. Padahal umat Islam di negeri ini adalah mayoritas, bahkan terbanyak dan terbesar di seluruh dunia, tapi mengapa tidak mampu seiring dalam menentukan sesuatu yang menyangkut hajat orang banyak seperti penentuan hari ‘H’ nya lebaran ini.

Saya pikir kita sudah waktunya punya para pemimpin yang konsisten dan konsekuen baik waktu dia belum duduk ataupun sudah duduk menjadi petinggi-petinggi pemerintahan, dia bisa memimpin umat, mengayomi umat dan melindungi umat tanpa harus takut dipecat karena keteguhan niatnya dalam berjalan dikoridor keagamaan yang diyakininya.

Eh…. Ko’ saya jadi bicara soal politik ya….. maaf, tapi memang itulah yang terbersit dalam pikiran saya setelah melihat kenyataan hidup ini.

Kembali ke masalah lebaran yang berbeda-beda ini, saya selaku rakyat awam yang tidak tahu apa itu sidang isbath, hisab atau perhitungan jalannya bulan ataupun rukyat dengan pengamatan hilalnya. Yang terpenting berharap kalau dikalender sudah ditentukan tanggal 1 Syawal sebagai hari Lebaran itu, ya harus itulah yang kita pakai sebagai penentuan yang sudah digariskan pemerintah yang harus kita ikuti. Mudah-mudahan dengan begitu tidak menjadikan umat ini bingung, dan tidak terjadi lagi dualisme hari Lebaran.

Dan yang terakhir harapan saya, mudah-mudahan di hari yang fitri ini anda pembaca tulisan ini bisa memaafkan celotehan saya selama ini, sampai saat ini. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir Batin.

Selasa, Juli 26, 2011

PAKU Kehidupan

PAKU. Sepanjang jalanan yang aku lalui dari kawasan industri Jababeka, menyusuri tepian Kali Malang, sampai di Jalan Mayjen D.I. Panjaitan, Casablanca, Tanah Abang sampai di Jatibaru, aku berhasil mengumpulkan kurang lebih 2 ons logam keras yang berujung lancip itu. Benda itu bertebaran di jalan raya yang biasa dilalui kendaraan besar dan kecil. Kondisinya dari yang sudah berkarat dan bengkok sampai yang masih lurus dan mengkilat. Ada yang begitu saja tergeletak di atas jalan raya atau disamping ‘polisi tidur’ ataupun ada yang nancap di karet sandal jepit atau kayu.

Aku memang iseng hari itu, dari pagi sampai siang hari berjalan sambil mendorong motor ‘bravo’ tuaku berpuluh kilo meter jaraknya dari rumahku yang terletak di Cikarang Bekasi menuju ke tempat kerjaku di daerah Tomang Jakarta Barat. Suatu perjalanan yang sangat melelahkan dan menyedihkan, tapi memang harus aku lakukan biar sampai di tujuan, untuk mencari nafkah buat keluarga.

Bensin di dalam tangki ‘bravo’ ku hanya cukup buat perjalanan dari keluar pagar rumah sampai di Jababeka, selanjutnya tangki bensin itu kosong ngegelontang sama sekali yang menyebabkan aku mesti jalankaki bergandengan dengan motor tuaku menghabiskan sisa perjalanan.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Seperti biasanya kalau aku pulang menafkahi keluargaku, semua penghasilan dari peras keringatku selalu aku serahkan semuanya ke tangan istriku. Biar dia yang mengatur2 untuk keperluan rumah tangga. Memang aku akui, aku sendiri tidak pandai untuk mengatur uang, ditambah karena memang uang yang dihasilkan sangat minim sekali, hanya naluri seorang ibulah yang bisa mengatur uang yang minim itu agar bisa dipergunakan seefisien mungkin. Aku memang salut dan bangga dengan kebisaan istriku. Terima kasih ya Allah, aku telah dikasih pendamping makhluk berjenis lain yang bisa membantu memecahkan masalah2 di kehidupan ini. Aku tidak mampu membayangkan jika aku hidup sendiri tanpa dia untuk mengurusi ke lima anakku yang semuanya sangat memerlukan perhatian tersendiri.

Berangkat kerja pagi itu, aku hanya kebagian jatah uang delapan ribu perak buat bensin dari istriku. Aku hanya bisa menelan ludah dan mengurut dada. Sudah terbayang dikepalaku berapa puluh kilometer aku harus berjalan kaki setelah bensin yang bisa dibeli dengan uang segitu, habis. Tapi demi mencari nafkah buat keluarga yang harus aku hasilkan dari bekerja di tempat kerjaku di Jakarta itu, aku harus lakonin. Jadilah aku mengumpulkan benda2 berbentuk silinder berbahan dasar besi-baja dan berujung runcing itu.

Daripada hanya mengutuki nasib yang kian tak menentu di jaman seperti ini, sepanjang perjalanan itu, aku pungutin logam2 itu sambil berharap dalam hati mudah2an jadi amal kebaikan, karena akan sedikit mengurangi resiko kempesnya ban kendaraan2 orang lain yang melintasi di jalan itu.

Tapi di sisi lain, aku memunguti benda2 itu sambil bersumpah serapah juga. Karena akibat dari benda ini pernah suatu hari aku diceramahi, disumpah serapahi dan dibiarkan kelaparan oleh ibunya anak2 karena aku pulang hanya membawa uang sekedarnya, malahan hp ku aja aku agunkan di tukang tambal ban. Sehari itu ban motor ku kempes 4 kali yang paling parah yang terakhir kali, karena yang nancap paku bengkok berukuran 5 cm yang membuat ban dalam motorku robek tidak bisa ditolong dengan ditambal. Akhirnya aku ganti dengan yang baru dan aku nitipkan hp ku karena uang di dompetku tinggal jatah belanja buat orang rumah itupun sudah banyak berkurang terpakai buat nambal. Oh nasiiiibb…

Kenapa pak? Bensinnya habis? Mogok? Aku hitung ada 6 orang yang berbaik hati para lelaki yang kebetulan lewat menanyakan itu padaku, sambil menawarkan untuk mendorong motorku. Aku tolak dengan sopan. “Saya dorong sambil nunggu teman yang mau jemput, terima kasih”. Mereka pun berlalu mendahuluiku. Aku gak mau menyusahkan mereka, karena malu pada diri sendiri, dulu sewaktu aku bawa vespa sering juga ditolong orang kalau mogok, tapi aku sendiri belum bisa nolong orang lain karena ilmu perbengkelanku masih nol, dan aku paling gak bisa men-step motor mogok dengan kakiku.

Ada 2 diantara mereka yang pasti menggerutu dalam hatinya karena aku tolak ajakan mereka, gimana aku gak nolak…. Aku gak punya uang sepeserpun sedengkeun mereka itu kan perlu buat nguber setoran, karena mereka itu tukang ojek motor…. Tapi lucu juga kan….. kalau tukang ojek dimintain duit ngojek sama tukang ojek lagi…. (aku kan suka ngojek juga diluar jam kerja, alias tukang ojek malam)

Kembali ke soal benda yang selalu berdampingan dengan martil atau palu besi itu, aku jadi berpikir, apa mungkin benda2 itu berasal dari mobil toko bahan bangunan yang ngangkutnya dan secara tak sengaja berjatuhan di jalan, atau karena orang2 yang tega dengan sengaja menyebarkan benda itu di jalanan. Sungguh busuk hati mereka itu. Tapi kalau mereka itu rakyat kecil yang karena terpaksa melakukan itu karena tuntutan dapur, gimana hukumnya ya dalam agama kita? Eh tapi ada yang lebih busuk lagi yaitu kalau ‘paku’ itu ditebarkan dengan tujuan untuk menjegal lawan politiknya agar tidak bisa maju melesat melewati dia yang bekerja dengan lemah gemulai dan bermalas-malasan. Itu kebusukan yang parah bukan?

Ah, sengaja tempatnya para pemimpin politik di Senayan sana aku tidak lewati, aku lebih suka menyisir jalanan pinggiran kota ke arah Tanah Abang, Jatibaru dan Kota Bambu. Ke tempatnya rakyat negeri ini bergelut dengan kenyataan hidup di lapangan yang kumuh dan kotor tapi jauh dari politik2 kotor.

Terakhir….. Ternyata PAKU dan KOTOR itu telah membuat kesusahan yang lebih parah padaku. Di jalanan yang berdebu karena sudah lama hujan tidak melintas di kota Metropolitan ini, benda tajam dan berkarat juga kotor itu sudah nancap di sandal yang aku pakai, nembus sampai melukai telapak kakiku. Aku tertatih2 minggirin motorku, dan duduk sambil menahan rasa sakit di kaki dan sakit di dadaku, karena jantungku berdebar sangat kencang akibat kecapean.

Setengah jam kemudian aku baru bisa bernapas agak lega, dengan sekaan keringat terakhirku aku memarkirkan motor tuaku di parkiran rumah sakit, dimana kantorku bertengger di sana. Alhamdulillah sampai juga di tujuan.

Dan sampai jumpa di tulisan lain.

Minggu, Juni 26, 2011

BUNGKUS MLM

Dalam rangka kebingungan mencari duit tambahan buat dapur, aku telusuri internet, dan aku dapatkan sebuah alamat yang membuka lowongan pekerjaan part time untuk pengeleman kantong teh Rosela. Ah kerjaan yang gampang itu, pikirku.

Begitu sampai dialamat, aku disambut ramah beberapa orang Bapak-bapak yang lagi pada duduk sambil ngobrol di tempat yang biasanya ditempati satpam (kalau di kantor lain), satu diantaranya menyambutku dengan ramah, sambil nyalamin tanganku. Akupun membalas sembari menanyakan nama pak Janri, karena menurut SMS yang aku dapat dari back link internet, suruh menghubungi nama itu. Bapak penyambut mempersilahkan masuk ke dalam.

Sebetulnya begitu mau masuk itu kantor ada perasaan ragu dalam hati karena dari dalam kantor ada beberapa cewek keluar, dua diantaranya kayaknya bencong gitu (maaf, karena gak tahu kenapa dari dulu aku selalu merinding kalau ketemu orang macam itu.... gak tahu kenapa). Kantor apa ini?

Di dalam ada sebuah meja dengan tulisan pendaftaran di atasnya dan beberapa kursi kosong yang ngadep ke meja itu, mungkin memang tempat tunggu tamu. Di meja pendaftaran ada beberapa orang cewek lagi, ditambah lagi cewek yang bencong tadi yang ngikutin aku masuk, satu diantara mereka yang memang mungkin bagian pendaftaran langsung mempersilahkan duduk, dan langsung menyodorkan selembar kertas formulir isian berwarna kuning.

“Silahkan isi formulirnya, daftarnya di sini dan administrasinya 10 ribu”, kata ibu pendaftar tanpa basa basi lagi.

Aku langsung ngisi formulir itu dan langsung menyerahkan uang 10 ribu berikut foto copy KTP, sebenarnya bagian pendaftaran seh gak minta foto copy itu, tapi karena di SMS yang aku terima itu salah satu persyaratannya adalah fc KTP. Dan aku pikir itu memang wajar sebuah kantor yang akan mempekerjakan orang pasti harus memegang data2 dari orang yang baru dikenalnya.

Baru aku mangap mau nanya ini itu setelah menyerahkan formulir itu, ibu pendaftar itu langsung nyeletuk:

“Silahkan bapak duduk dulu, tunggu diwawancara di dalam nanti.”

Akupun ngeloyor ke sana, aku pikir gak sopan kalau bertanya-tanya, sementara dari wajah ibu pendaftar tidak tampak wajah yang ‘well come” untuk menerima pertanyaan2..

Tak lama ibu pendaftar itu laporan sama seorang bapak yang tadi lagi di luar, terlibat pembicaraan sebentar diantara mereka, dan sebentar kemudian Bapak-bapak itu masuk sambil membawa formulir aku yang diserahkan oleh ibu pendaftar tadi. Beliau mempersilahkan masuk ke ruangan tengah dimana disana sudah terdapat 4 meja. Aku dipersilahkan duduk disalah satu meja, eh... kursi tentunya dimana beliau sudah duduk duluan.

Bapak itu menyalamiku memperkenalkan namanya sembari menunjuk pada kartu ID yang tergeletak di mejanya. Selintas aku melihat nama di ID card itu, initialnya NS kalau tidak salah, rasanya gak sopan juga kalau aku perhatikan sejelas2nya nama ataupun foto yang ada di ID itu.

“Sekarang tinggal dimana pak A”? pertanyaan pertama muncul dari Pak NS.

“Di Johar Baru, Jakarta Pusat Pak,” jawabku.

“Oh, ..... baik Pak A, sebelumnya saya mau memperkenalkan dulu perusahaan. PT HDN adalah perusahaan swasta yang bergerak dibidang perindustrian dan perdagangan, salah satu produknya adalah teh rosela ini.” paparnya sambil memperlihatkan sebuah kardus ukuran dos teh sariwangi.

Selanjutnya beliau menjelaskan cara kerja pengeleman kantong teh itu. Aku betul-betul perhatikan semua itu. Dan aku pikir.... kayaknya mudah bener cuman ngelem segitu doang... satu box kayaknya gak bakalan berhari-hari ngerjainnya. Satu dus yang berisi 250 kantong itu dihargai 70 ribu. Wah enteng bener kayaknya....

“Pekerjaan ini boleh dibawa pulang dan dikerjakan di rumah Pak” ucapnya.

Aku cuman manggut-manggut sementara yang ada dibenakku waktu itu, aku sedang menghitung-hitung berapa dus bisa aku garap dalam satu minggu... dikali sekian... bakalan dapet sekian...

“Syaratnya Bapak harus punya ID Card PT HDN, dengan membayar keanggotaan GMS , pembinaan, sistem, produk, dan lain-lain...” ucap beliau sembari mencoret-coret kertas kuning berisi tulisan dan angka-angka, yang belakangan aku tahu itu adalah sebuah formulir lembar wawancaranya PT HDN itu. Dimana didalamnya mengandung keterangan berupa angka-angka komisi dan bonus-bonus yang katanya akan diberikan setelah pengerjaan berlangsung.

“Bila bapak bayar sekarang 250 ribu, ID Card nya langsung bisa ditunggu, dan bapak langsung bisa membawa pulang pekerjaan nya.” ucapnya meneruskan.

Hah.... seterusnya aku jadi kaget. Terus aku berpikir 250 ribu dari mana lagi nyari uang segitu? Terus pikiranku menerawang lebih jauh lagi...

“Bagaimana pak, mau ambil sekarang?” kata beliau membuyarkan terawanganku.

“Tapi....,” baru aku mau ngomong kalo aku gak punya uang, kalo mesti bayar segitu gede mah.

Rupanya beliau maklum, kalau aku orang bokek atau ragu2, karena beliau langsung memberikan solusi:

“Silahkan bapak rembukan dulu sama istri di rumah, nanti kalau mau, datang besok sekalian sama istri, biar tahu sekalian.”

Beliau melipat2 formulir pendataranku tadi bersama formulir wawancara itu dan sebungkus kantong teh yang sudah jadi. Lalu memasukkan kedalam sebuah amplop, yang kemudian amplop itu dilem dan dikasihkan ke tanganku.

“Kami tunggu ya Pak”, ucap beliau menutup wawancara. Mungkin sekaligus mempersilahkan aku pulang secara tidak langsung. Meskipun penampilannya masih ramah seperti waktu pertama datang, tapi di wajahnya aku menangkap sedikit kekecewaan, karena aku tidak bawa uang pendaftaran yang 1/4 juta rupiah itu.

Aku langsung nyalamin beliau dan ngeloyor keluar dengan lemes. Ah... duit 250 ribu dari mana aku dapat, 10 ribu aja yang tadi aku serahkan ke bagian pendaftaran itu hasil aku ngumpulin 4 hari lho.... sisa2 beli bensin dari ngojek malem.

Kalau sehari ada 10 orang aja seperti aku, yang datang ke PT itu dengan maksud mau nyari duit tambahan, tapi kebentur uang yang 1/4 juta itu, pulang lah dengan tangan hampa..... Sementara PT itu mendapatkan 10 x 10 ribu uang pendaftaran yang datang sendiri, kan jadi 100 ribu, belum lagi kalau seharinya ada 100 orang, maka dalam sebulan bisa mencapai angka 26 dengan 5 nol dibelakangnya. Dua juta enam ratus bro...

Penasaran aku buka2 internet lagi untuk mencari nama PT HDN, maka yang pertama aku temukan adalah alamat www.kaskus.us yang didalamnya ada beberapa komentar....... satu diantaranya memaparkan kekecewaannya karena seolah2 dipaksa untuk mengeluarkan uang untuk pendaftaran yang 10 ribu dan diwawancara, yang sebenarnya bukan seperti layaknya wawancara di perusahaan lain, tapi nota bene menerangkan cara ngelipet packing teh doang, persis banget seperti yang aku alamin diatas.

Lalu satu lagi diantaranya, paparannya berisi kekecewaan saudara penulis yang di awal2nya disuruh bayar Rp.250.000,- lalu dikasih 1 kotak berisi bungkus2 teh yang belum dilem jumlahnya 250 lembar, lem dan 1 buah cotton buds untuk dikerjakan di rumah. Ternyata memang mudah sekali pengerjaannya hanya 1 jam sudah selesai. Besoknya mengembalikan kotak sambil mau mengambil duit komisinya. Satu kotak yang dihargai semula 70 ribu itu dipotong ADM, dll, total diterima cuman 63 ribu.

Nah Disini Busuknya Keluar....(maaf aku kutipkan ‘omelan’ asli dari paparan itu). Kita, katanya, gak bisa mengambil kerjaan lagi (ngelem kantong teh), tapi kita mesti ngajak orang lain 1 orang baru. Barulah kita akan dikasih kerjaan teh lagi. Si orang baru itu mesti bayar lagi 250 ribu. Begitu seterusnya... besoknya mesti ajak orang lain lagi.... lagi dan lagi... BERRRARTI..... ini kerjaannya MLM Model baru lagi.... (maaf kalau salah karena aku nggak tahu persis model2 MLM yang lainnya).

Karenanya aku cuman mau sharing aja buat para pembaca, pengalaman aku dan netter lain. Tapi kalau gak percaya silahkan dicoba aja.... barangkali mau bersedekah 10 ribu aja dulu buat pendaftaran, dan jangan kaget kalau disuruh bayar 250 ribu setelah itu.....

Ini contoh brosur yang mereka bagikan di jembatan penyeberangan persimpangan Daan Mogot - Kyai Tapa - Letjen S. Parman


Dan ini contoh bungkus teh yang sudah kita lem, yang jumlahnya 250 dalam satu kotak itu.


Selasa, Mei 24, 2011

TIDUR YANG BERJALAN

“Pijay….. Pijay….. Pijay habisss….” Lamat-lamat suara orang berteriak-teriak, suara itu begitu jauh dan kecil terdengar di telinga.

Aku mencoba memicingkan sebelah mata, sangat berat, tapi aku paksakan juga. Dari pemandangan luar yang aku bisa tangkap hanya dari segaris pintu pelupuk mata yang terbuka aku melihat kendaraan berseliweran, orang-orang lalu lalang, terus gedung-gedung tinggi menjulang.

Ah…. Sudah nyampe mana ini? Stasiun berikutnya apa ya? Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru apa Cawang yah?... Aku sangat ngantuk sekali hari ini. Aku kepagian pulang kerja semalem, jam setengah lima Subuh baru nyampe pintu rumah. Gara-gara mobil omprengan di Pasar Minggu itu yang lama sekali menunggu penuh penumpangnya, jadinya tambah lama lah kita nongkrong di terminal darurat Pasar Minggu, dan tambah malam/menjelang pagi lah kita nyampe di rumah.

Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, sudah berjalan 3 tahunan bahkan, aku pulang kerja dari Jalan Percetakan Negara Jakarta Pusat jam setengah dua belas malam, jalan menyusuri kegelapan malam diantara perumahan orang2 yang beruntung (aku sebut orang2 beruntung… karena buat aku yang ‘tidak seberuntung’ mereka, hanya punya rumah jauh di ‘daerah terpencil’ di Citayam sanah, jauh dari hiruk pikuknya kota Metropolitan ini).

Sampe di Jalan Pramuka Raya, dilanjutkan dengan menyusuri jalan itu ke Jalan Tambak sampai Terminal Manggarai. Dari sana aku naik mobil omprengan ke Pasar Minggu. Tiba di Pasar Minggu, disana sudah menunggu mobil2 omprengan yang ke Pasar Kemiri Depok, terus disambung lagi naik angkot biru 05 jurusan Bojong Gede. Tapi kalau mau sekali naik mobil harus jalan lagi ke arah Lenteng Agung menyusuri pinggiran rel Kereta Api. Dipojok dekat palang pintu KA itulah ada sebuah halaman yang tidak begitu luas depan sebuah apotik kalau malam setelah ‘kereta terakhir’ ke arah Timur lewat, dipakai pangkalan terminal dadakan buat mobil angkot biru 05 yang sengaja ngompreng menjemput orang yang ketinggalan ‘kereta terakhir’. Angkot biru itu sebetulnya bertrayek Depok-Bojong Gede, namun kalau sudah malam begitu, mereka dengan setia suka nunggunya di pojokan Pintu kereta Pasar Minggu itu, tentunya dengan ongkos berlipat ditambah jarak Pasar Minggu-Depok.

Mau mobil omprengan ke Pasar Kemiri Depok ataupun mobil angkot ngompreng itu sama saja, mereka akan setia menunggu penumpang, sampai benar-benar penuh sesak, baru mau jalan. Mereka tak segan-segan mengusir penumpang yang tidak sabaran. Bagi kami sang penumpang, hanya bisa mengurut dada, dan menekan dalam2 sumpah serapah karena kesal saking lamanya nunggu mobil jalan. Tapi tidak ada pilihan lain buat kami, terutama orang seperti aku yang selalu menggantongi ongkos pas-pasan malah seringnya cekak.

Saking kelamaannya nunggu penumpang penuh, sampai2 kami sering ketiduran sambil duduk, dan saking pulasnya aku sering dibangunin kernet kalau sudah sampai Pasar Kemiri kalau naek mobil omprengan, dan sering kebablasan ke Bojong Gede kalau naek angkot yang ngompreng itu. Ujung-ujungnya harus jalan kaki balik lagi dari Bojong Gede ke arah Citayam karena sudah tidak ada lagi angkutan yang ke arah balik. Begitu sampai di Bojong mereka langsung tertidur di sana.

Saking kelamaannya nunggu itu, aku sering terpaksa makan sahur (bulan Ramadhan) di Terminal Depok, karena kalau dipaksakan pulang, azan Subuh baru sampe rumah.

Dan saking kelamaannya nunggu itu pula, nyampe rumah menjelang Subuh, habis Shalat aku ketiduran, dan jam setengah delapan pagi sudah dibangunkan lagi, buat siap-siap berangkat kerja lagi. Jelaslah…. Waktu tidur yang hanya 3 jam itu, setiap hari, membuat aku selalu ketiduran di perjalanan baik itu di bis, angkot atau di dalam kereta api.

Hah…. Sekarang aku sudah didalam angkot atau kereta api yah……? Aku tersentak seperti kena petir di siang bolong. Mata aku paksakan untuk terbuka lebar, biar jelas bener lihat sekeliling... Kendaraan yang berseliweran. Orang-orang yang lalu lalang. Dan gedung-gedung yang tinggi menjulang itu begitu dekat… Eh… ko.. Gedung-gedung itu turun seperti amblas ke bumi….. Ya ampun bukannya amblas… tetapi mereka itu turun… dan aku yang naik ke tanjakan…. Yah… tanjakan jembatan…. Jembatan Tomang???

Aku kaget sekaget-kagetnya….. setelah sadar kalau aku sudah ada di atas jembatan Tomang, berarti aku sudah di dalam bis, bukan lagi di dalam kereta api, dan Stasiun kereta Cawang dimana aku selalu turun dari kereta sudah terlewat jauh… yang baru terlewati adalah Rumah Sakit Harapan Kita, Mall Taman Anggrek dan Untar. Yah….. kelewatan lagi deh….

Aku terpaksa turun di halte Citraland, beberapa halte setelah halte Rumah Sakit dimana dimana kantorku bertengger. Itupun setelah aku berusaha sekuat tenaga buat bangkit dari tidur dan dengan segenap kemampuanku untuk mencerai beraikan penumpang dari kepadatannya, dan melakukan loncatan terakhir dari pintu bis ke tepian jalan.

Huh… untung aku selamat, kakiku tidak terkilir, atau babak belur karena terseret bis yang sudah mulai bergerak.

Hari ini pun aku harus berjalan kaki lagi naik jembatan penyeberangan lalu menyusuri jalan S. Parman ke arah balik, karena memang tempat ‘nyangkul’ ku sudah kelewatan.

Seandainya tadi aku sadar kalau yang teriak2 itu kernet… yang mengingatkan bahwa bis sudah sampai Slipi Jaya (biasa disingkat Pijay), tentunya aku harus segera bangun dan bersiap-siap karena di halte berikutnya aku harus turun, dan tentunya aku tidak akan makin terlambat sampai di kantor, dan tentunya lagi aku tidak terlalu kecapaian karena harus jalan kaki sebab duit di dompet hanya cukup buat ongkos entar pulang malam.

Lagi-lagi terlambat, lagi-lagi datang kesiangan, lagi-lagi si Bos ngomel, lagi-lagi Ibu Bendahara dan Sekretaris melihat ke arahku sambil memicingkan mata ke arah jam dinding.

Ah… sudah tahu ko…. Aku terlambat….. dan absenku ditandai dengan lambang bintang…. Pertanda HARI INI UANG MAKAN DIPOT TONK alias dipenggal. Begitu gumamku dalam hati.

Memang kejadian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama setelah aku bertempat tinggal di daerah Citayam, yang kurang lebih 70 km dari tempat kerja. Dan setelah aku selalu pulang tengah malam karena setelah kerja di Rumah Sakit, aku masuk kerja lagi di sebuah Biro Jasa Percetakan. Sebab kalau tidak begitu…. Mana bisa aku bayarin rumah kreditan, ngasih makan anak bini, nyekolahin anak, dan biaya ini itu di jaman seperti ini. Itupun aku harus bersyukur jarang-jarang ada orang yang bisa bekerja di dua tempat dalam seharian.

Makanya sudah tidak heran lagi kalau aku suka ketiduran di kereta terakhir menuju pulang, dan bangun sudah mau sampai stasiun Bogor, dari sana mesti naek omprengan balik ke Bojong Gede dan melanjutkan dengan jalan kaki ke arah Citayam. Atau ketiduran di kereta waktu berangkat, yang aturan turun di stasiun Cawang…. Bisa-bisa turun di stasiun Manggarai, Cikini bahkan di Kota.

Memang aku sering ‘Tidur yang berjalan” tapi bukan ngelindur, alias bangun dari tempat tidur, terus jalan terseret-seret keluar kamar sambil mata masih tertutup rapat.

(*memoriku)

Kamis, Juni 10, 2010

Hallo... Tipuan

“Hallo….. selamat siang, de Kiki apa kabar”, terdengar sapaan ramah penuh rayuan dari hp yang kupegang, memecah keriuhan obrolan aku bersama istriku di dalam kamar siang itu. Anak-anakku sedang pada bercanda di ruang tengah yang merangkap sebagai warung sederhana punya keluarga kami.
“Baik, maaf ini nomornya anak, tapi sekarang saya pake”, jawabku, sambil mendekapkan lebih dekat hp ke telinga. Ingin mendengarkan lebih jelas, suara siapa dari ujung sana.
“Oh, ini orang tuanya de Kiki, sekarang di Soreang, Ciparay, Cimahi atau dimana Pak?” suara itu terdengar lagi. Seorang lelaki sudah berumur, berwibawa dan ramah, itu taksiranku. Menyebutkan nama-nama daerah itu karena nama-nama itu ada di sekitar daerah tempat tinggal anakku yang dititipkan pada kakek-neneknya di Bandung. Dimana anakku meregistrasi kartu teleponnya di sana.
“Saya di Bekasi, Anda siapa ya?” jawabku, sambil makin menempelkan hp di telinga. Masih aku gak tahu suara siapa ini. Ada hubungan apa orang dewasa ini dengan anakku yang baru berumur 12 tahun.
“Oh, begini Pak, kami dari Telkomsel. Dalam rangka Survey jumlah pemakai telepon selular di Indonesia, nomor Anda terpilih dari 200 juta pemakai, untuk mendapatkan hadiah sebesar 15 juta rupiah,” jawab suara lelaki dari seberang sana. Suaranya agak berat, tapi lancar sekali.
Dan…. angka yang disebutkan di belakang itu yang tiba-tiba membuat aku agak kaget. Serta merta aku menempelkan telunjuk di mulutku yang terkatup. Istriku mengerutkan dahi memandangku dan bertanya dengan isyarat, tanpa suara: “Siapa?”
“Serius Pak?” tanyaku ke benda yang bisa bersuara yang aku pegang itu.
“Serius. Bapak akan mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Hadiah uang sebesar 15 juta rupiah, tidak dipotong pajak, atau biaya lain, alias bener-bener bullet 15 juta Pak,” ucapnya
“ Kalau gak percaya, silakan datang ke gerai Telkomsel di jalan Soekarno-Hatta, tanyakan nama saya Haji Dulloh (tentunya nama samaran lah..)..” sambungnya.
Bener-bener, detak jantungku jadi tidak beraturan, aliran darah panas mulai deras ke seluruh tubuh. Otak ku segera muter ke mana-mana. Istriku mendekati, dan menempelkan telinganya di sisi yang lain dari hp yang aku pegang. Dia juga terpancing ingin tahu rupanya.
“Kira-kira mau diapakan uang ini Pak? mau pakai sendiri, atau mau disumbangkan ke yayasan yatim piatu, rumah jompo….”, begitu suara laki-laki tadi melanjutkan.
“Sebentar Pak,” aku memotong.
“Dalam rangka apa tadi Pak?” Aku ingin mendengar lagi sejelas-jelasnya, karena tiba-tiba aku merasa tidak percaya dengan kenyataan yang begitu mendadak ini. Aku bersyukur tidak sempet pingsan mendengar semua ini, tidak seperti rakyat-rakyat kecil yang ada di tv-tv yang mendapatkan ‘Uang Kaget’ atau ‘Bedah Rumah’.
“Dalam rangka Survey jumlah pemakai telepon selular di Indonesia, yang sudah mencapai lebih dari 200 juta pemakai, dan Anda terpilih untuk mendapatkan hadiah sebesar 15 juta rupiah”, jawabnya lagi, dengan nada suara yang agak ditekan, untuk menegaskan.
“Kalau betul, Alhamdulillah bener, memang kebetulan kami sedang memerlukan dana sekarang ini Pak. Biar akan saya pake sendiri saja”, ucapku lancar, seiring dengan ucapan dalam hati, puji syukur ke hadirat Illahi Rabbi dengan tibanya rejeki nomplok dan mendadak ini.
“Baik, Bapak Bekasinya dimana ya?” tanya suara itu lagi.
“Cikarang”, jawabku.
“Wah jauh juga kalau diantar ya, gimana kalau kita transfer saja, Bapak punya nomor rekening?” tanyanya.
“Punya”, jawabku.
“ATM?”
“Punya”, jawabku.
“Masih berlaku Pak?”
“Masih dong”, jawabku dengan bangga…. Meskipun sebetulnya itu ATM gak pernah terisi dengan uang diatas seratus ribu rupiah, kalau pun pernah…. ya… gak pernah bisa bertahan disana lebih dari dua hari.
Gajianku pada tiap bulan selalu dimasukkin ke ATM itu oleh Bendahara Kantor. Tapi begitu mau pulang dari kantor, pasti aku langsung kuras lagi itu ATM, karena istriku lebih suka suaminya bawa uang cash dikantong. Karena memang letak ATM di daerah kami jauh bener, mesti naek ojek dari rumah ke depan pintu gerbang perumahan, lalu disambung lagi dengan angkot ke pasar yang ada ATMnya….. bulak balik aja bisa ngabisin uang 15 ribuan lah. Belum kalau pengen minum karena haus di jalanan, belum lagi kalo….. kalo… kalo….
“Boleh Bapak sebutkan nomor rekeningnya, biar kami bisa segera mentransfer dananya.” Suara itu kembali memecah angan-anganku yang sempat melayang sebentaran.
“Saya cari dulu Pak, nanti saya telpon Bapak,” jawabku.
“Oke, saya tunggu Pak,” jawab dari ujung sana.
Dan aku tekan gambar telepon yang memancarkan cahaya warna merah pada deretan tuts-tuts di hp ku untuk memutuskan pembicaraan sesaat aku dengan lelaki yang mengaku bernama Pak Haji Dulloh itu.
Sejenak aku terdiam. Merasakan gejolak, yang meletup-letup dalam dadaku. Gejolak kegembiraan yang begitu tiba-tiba menghampiri aku.
“Yah, siapa tadi?” tanya istriku menyadarkan aku. Istriku biasa memanggil aku ‘Ayah’, untuk membiasakan anak-anakku dengan memanggil aku Ayah, bukan Bapak, Abi atau yang lainnya.
Aku terdiam sejenak. Baru setelah kesadaranku pulih, aku ceritakan semua tanya jawab ditelpon tadi secara utuh.
“Alhamdulillah…. Yah….”, istriku mendesah. Sebersit cahaya kegembiraan terpancar di wajahnya.
“Ternyata De…. Gak disangka-sangka, ada aja rizki buat lahiran Ade…” ucapnya berbinar-binar, sambil tangan mengelus-ngelus perutnya yang buncit. Memang istriku sekarang sedang hamil tua, tinggal menghitung hari untuk segera melalui proses persalinan. Padahal di dompetku belum sepeserpun uang tersisih buat jatah lahiran itu. Dari pagi berdua, kami sedang ngobrol-ngobrol tukar pikiran cara mencari uang yang bisa segera dilakukan.
Dalam tempo singkat kami segera memutuskan untuk segera berangkat ke ATM, siapa tahu memang disana peruntungan kami, disamping itu memang kami sudah berniat juga untuk ngambil uang di ATM pada pagi hari itu untuk keperluan belanja hari ini. Setelah mesenin biar jagain adik-adiknya kepada anakku yang paling tua, dengan scooter yang kami punya, kami segera melesat menuju pasar terdekat. Tapi melesatnya tidak seperti burung gitu….. karena aku sadar, aku bawa motor dengan tumpangan istri yang lagi hamil tua. Dua nyawa yang aku bawa.
Selama dalam perjalanan, istriku tak habis-habisnya menasihati aku biar aku berterima kasih sekali sama Pak Haji Dulloh yang akan memberikan uang buat biaya persalinan anak kami. Tapi sebelum diambil buat keperluan kami, tak lupa akan kami sisihkan sebagian uang itu untuk anak-anak tetangga kami yang yatim atau piatu, sebagian lagi buat ke mesjid, biar maslahat uang yang kami terima nanti, pesan istriku.
Tiba di Pasar, kami segera menuju ke deretan mesin ATM yang letaknya ada di pojokan ruko-ruko. Ramai sekali pengunjung di sana. Sambil menunggu agak sepian, aku tinggalkan istriku di depan gerai ATM itu untuk membeli minuman ringan dan sebuah ballpoint untuk mencatat nomor rekening tabunganku yang aku pernah simpan di dalam hp.
Betul juga, sekembalinya aku dari pasar, suasana di gerai ATM sudah mulai sepi. Kami segera mendekati mesin ATM. Dan menguras uang kami di mesin itu yang hanya berisi seratus enam puluh empat ribu rupiah. Uang yang bisa dikeluarkan hanya seratus ribu, dan sisanya gak bisa keluar, alias mengendap di mesin itu. Hal ini kami lakukan atas kesepakatan bersama, karena buat jaga-jaga, takut kalau Pak Haji Dulloh itu adalah seorang penipu. Maaf, bukannya kami curiga, tapi sekali lagi buat jaga-jaga aja. Aku pernah mendengar sas sus dari sana sini tentang kejadian penipuan lewat telepon.
“Nomor yang Anda tuju tidak bisa dihubungi, silakan tunggu beberapa saat lagi atau….” Begitu suara dari hpku ketika aku mulai mencoba menghubungi Pak Haji Dulloh.
Aku segera mematikan kembali hp ku. Mungkin sedang sibuk kali teleponnya, pikirku.
Setelah beberapa saat aku coba lagi menghubungi dia dan alhamdulillah terhubung.
“Bisa bicara dengan Pak Haji Dulloh”, sapaku kemudian.
“Saya sendiri, gimana Pak, sudah ada nomor rekeningnya?” langsung saja Pak Haji menembakku dengan pertanyaan.
“Ada, ini saya sebutkan … ”, jawabku dan aku sebutkan dengan sangat hati-hati satu demi satu angka dari nomor rekening tabunganku.
“Baik, segera akan kami transfer dananya. Bapak jauh dari ATM nya?” tanya Pak Haji.
“Kebetulan sekarang saya sudah ada di depan ATM”, jawabku.
“Oh, baiklah kalo begitu. Eh, Pak maaf, kalau boleh tahu, ada berapa saldo di rekening Bapak, untuk memastikan dana yang kami kirimkan tidak salah hitungannya”, ucap Pak Haji.
Kok pengen tahu segala tabunganku, pikirku. Tapi gak apa-apa lah…. Aku tidak menaruh curiga…
“Ah cuma sedikit Pak, ada seratus enam puluh empat ribu rupiah saja”, ucapku malu-malu.
“Oke, jadi dana bapak seratus enam puluh empat ribu rupiah bila ditambah dengan lima belas juta, jadi lima belas juta seratus enam puluh empat ribu rupiah tentunya. Betul kan Pak?
“Ya,” jawabku sambil ikut menghitung dalam hati.
“Baik, Bapak akan segera kami hubungkan dengan atasan kami yang akan membimbing Bapak dalam menggunakan ATM untuk menerima dana dari kami. Sekarang coba Bapak tekan angka satu dari hp Bapak”, ucap Pak Haji.
Aku segera menekan tuts hpku, sesuai dengan permintaan Pak Haji.
Sejurus kemudian terdengar suara lain di ujung sana. Kali ini suaranya agak lebih ringan dan mungkin orangnya lebih muda dari Pak Haji.
“Hallo, Perkenalkan nama saya Iwan Samudra (pasti nama samaran lagi), Selamat Pak, Anda akan mendapatkan hadiah uang 20 juta rupiah. Dalam rangka Survey jumlah pemakai telepon selular di Indonesia ini.”
“Hah, 15 juta apa 20 juta, mana yang bener?”, ucapku, hanya dalam hati, kok beda antara omongan Pak Haji dan Pak Iwan ini. Tensi kecurigaanku mulai bangkit. Perbedaan angka yang mereka sebutkan kalau dijadiin duit kan ada 5 juta rupiah, angka yang tidak sedikit nilainya buat selevel ekonomi aku…
“Ya Alhamdulillah, Pak, kalau beneran ada”, ucapku yang terlontar keluar.
“Ya beneran dong Pak. Sekarang Bapak sudah ada di depan mesin ATM?” jelasnya.
“Ya”, jawabku.
“Tulisan apa saja yang ada di layar?” tanya Pak Iwan.
“100 ribu, 1 juta, transfer…” ucapku belum selesai, keburu dipotong sama pak Iwan: “Sekarang tekan transfer”
Aku turutin perintah itu.
“Apa yang ada di layar sekarang?” tanyanya kembali.
“ATM Bersama…. ATM Non Bersama…..”, belum selesai juga aku membacakan semua yang tertera di layar, keburu dipotong lagi: “Tekan ATM Bersama!”
“Sudah”, jawabku setelah menuruti perintahnya.
“Sekarang masukkan angka ini Pak….. bla… bla…. Bla….”, petunjuk Pak Iwan dengan menyebutkan sederet angka, namun kini giliran aku yang memotong omongan Bapak Iwan ‘Terhormat’: “Eh entar dulu Pak, saya yang akan menerima dana transferan, kok malah disuruh transfer ke nomor rekening Bapak seh….”
Tensi kecurigaanku semakin menanjak lagi.
“Astagfirullah….. aduh, maaf, maaf Pak, saya salah ngasih tahu caranya”, ucapnya kelihatan agak kaget dicampur gugup (mungkin), dia kaget ternyata berhadapan dengan orang yang ngerti masalah transfer dan gak bisa dihipnotis begitu saja dengan suaranya yang berwibawa kayak beneran ‘Direkturnya’ Telkomsel itu.
“Bapak tekan Cancel saja. Dan ambil kartu ATMnya Pak.”
Aku ikutin aja perintah itu. Dan segera aku masukkan kembali kartu ATM ku ke mesin, dan memijit pinnya, dengan perasaan mulai gerah, mulai kesal, mulai sebel, mulai segala macam lah…
“Coba sekarang masukkan lagi kartu ATMnya, dan tekan nomor PIN”, perintah sang Direktur.
“Saya sudah masuk Pak,” ucapku agak tegas. Karena sudah mulai diliputi perasaan gak enak tadi.
“Apa yang ada di layar….?” Tanyanya.
Aku sebutkan apa-apa yang ada di layar.
“Tekan…. Lain-lain”, perintahnya.
Aku turutin.
“Sekarang apa yang ada di layar?” tanyanya lagi. Ini orang memang gak tahu apa memang mau mencairkan suasana doang atau mau dilambat-lambatain biar hipnotis dari suaranya nyampe di otakku.
Aku sebutkan lagi apa-apa yang ada di layar mesin ATM itu.
“Sekarang tekan Pembayaran pulsa”, ucap sang Direktur.
Aku turutin.
“Sekarang apa yang ada di layar?” kembali dia bertanya.
“50 ribu, 100 ribu, 200 ribu….”, jawabku, kembali pula belum selesai aku menyebutkan semua, dipotong dengan perintahnya: “Tekan 100 ribu”.
Aku turutin juga perintah itu, pengen tahu sampai dimana ini orang mau ngerjain aku.
“Apa yang ada di layar sekarang?”, tanyanya kembali.
“Dana Anda tidak mencukupi”, jawabku sesuai dengan yang tertera di layar.
“Kok gitu, bener gak Bapak mencetnya….”, tanya sang Direktur, dengan suara agak bingung campur mulai kesel kedengarannya.
“Bener….”, ucapku pendek.
“Oh, kalau begitu Bapak sudah membohongi kami, dana Bapak bukan 164 ribu, mungkin hanya 15 ribu yah…..”, ucapnya ngenye, ngledek.
“Memang iya, dana saya cuman ada 64 ribu kok”, ucapku dengan suara yang balas ngeledek.
“Kok Bapak sudah membohongi saya, berarti bapak sudah mengbohongi Telkomsel. Bapak berbohong punya dana 164 ribu….”, ucapnya mulai nyerocos kesal, tapi aku pun gak kalah, aku potong: “Saya membohongi karena curiga Bapak akan menipu saya, buktinya, katanya mau transfer uang, malah saya harus membelikan pulsa buat nomor Bapak, kok gitu caranya”.
“Memang begitu prosedurnya, Bapak selaku orang awam, harus ikut saja cara-cara yang kami terapkan”, ucapnya kesal.
“Hey, Pak, saya itu sudah tahu persis cara memakai ATM jangan coba-coba membodohi saya dengan cara-cara yang Bapak sebutkan, kalau mau menipu jangan begitu caranya,” ucapku dengan suara mulai meninggi bercampur kesal.
“Tapi bapak sudah membohongi Telkomsel, dengan memberikan keterangan palsu….”, jawabnya mulai meninggi juga, mencoba lebih tinggi dari tekanan suaraku.
“Ah sudahlah Pak, pulsa saya mau habis, kalau Bapak mau teruskan omongan kita, saya akan putus dulu, silakan pakai pulsa Bapak.” Ucapku memutuskan perdebatan itu. Aku pikir tidak ada gunanya ngotot-ngototan di telepon, tidak saling tatap mata, tidak seperti yang aku lakukan dulu waktu acara ‘Debating’ pada kegiatan pramuka. Lagian kan malu dilihatin orang yang mulai berdatangan lagi memenuhi gerai ATM di sana.
Dan ampuh juga ucapanku itu membuat semuanya berakhir. Buktinya dari mulai saat itu sampai hari ini tidak ada lagi suara lembutnya Pak Haji Dulloh ataupun Direktur Iwan Samudra. Mungkin dua-duanya sudah berlayar keliling ‘samudra’, atau bahkan sudah kelelep ditelan ‘samudra’ beneran. Wallohu alam.
Yang terpenting sekarang, aku cuman mau berbagi pengalaman pada para pembaca. Ternyata penipuan dengan telepon itu ada. Jangan sampai Anda kena hipnotis lewat telepon semacam ini. Jangan keburu ‘termakan’ oleh suara yang lemah gemulai dan angka yang berderet nol nya. Memang mereka ini professional, dari cara bicara dan kerjanya sudah berurut dan sistematis. Tapi…. masa kita tidak bisa lebih professional dari mereka?

Kamis, Oktober 22, 2009

Oh... Rumahku.... (Bagian Kedua)

Tiba pada hari ‘H’nya untuk kepindahan kami, kami sudah pamitan sama tetangga, barang2 sudah dipak semua tinggal angkut ke mobil. Mobilnya pun sudah kami pesan sekalian. Barang2 seperti lemari besar yang diruang tamu, lemari pakaian, buffet dan satu set kursi tamu kami jual sekalian kepada orang yang beli rumah kami, Karena kami sadar akan menempati rumah baru yang ukurannya jauh lebih kecil nanti di Jakarta. Anak2 sudah kami sepakati untuk berangkat barengan dengan mobil yang ngangkut barang. Sedangkan aku berdua istri sudah berangkat duluan ke Depok, dimana disana kami akan melakukan transaksi jual beli rumah kami dengan pihak yang beli, disaksikan oleh seorang notaris.

Sambil menunggu kedatangan notaris, kami menyempatkan nelepon pak Mar dari sebuah wartel, yang mengabarkan bahwa kami akan melakukan transaksi jual beli rumah kami yang di Bojong sekalian menanyakan bagaimana nanti proses pembayaran ke pihak pak Mar. Dia bilang nanti kami datang saja ke rumahnya di daerah Pasar Ciplak Kali Malang karena dia takut membawa uang cash di jalanan. Oke kami sepakati itu.

Lancar dan aman sekali proses jual beli itu, jam 3 sore kami berdua sudah meluncur ke Jakarta dengan mengantongi uang cash 11 juta dan selembar kwitansi bermaterai yang tercantum didalamnya tanda tangan sah pembeli rumah kami. Kertas selembar itu yang menandai bahwa kami sudah tidak punya lagi rumah di daerah Bojonggede.

Karena kami tidak punya handphone waktu itu, kami sengaja mampir ke kantorku untuk menelpon pak Mar.

“Hallo… pak Mar? Apa kabar?” begitu sapaan mengawali pembicaraan kami ditelephone.

“Baik pak…” jawab pak Mar diseberang sana.

“Begini pak, uangnya 11 juta sudah ditangan kami. Kami sekarang ada di Jakarta, Bapak tunggu saja kami dalam setengah jam-an insya Allah nyampe di rumah bapak…” belum selesai kalimatku meluncur semua pak Mar memotongnya:

“Maaf pak, saya mau minta maaf nih….” Katanya.

“Kenapa pak?” tiba-tiba pertanyaanku meluncur mengiringi perasaan kagetku.

“Setelah saya ngobrol2 sama istri saya, ternyata istri saya tidak setuju….” Kata pak Mar lagi.

Tiba-tiba aku terhenyak dari tempat dudukku. Serasa sebuah petir telah menyambar di ubun-ubun kepalaku. Pandanganku tiba-tiba agak tersamarkan dengan warna kuning di mana-mana…. Kulihat istriku terpaku juga di sampingku.

“Istri saya tidak setuju dibayarnya nyicil begitu, dia maunya cash semuanya…. Sekaligus”, pak Mar melanjutkan tanpa bisa memperdulikan gejolak yang mulai timbul dalam otakku.

“Tapi kan kita sudah sepakat pak…”, hanya kalimat itu yang sempat meloncat dari mulutku, tersendat kuat… kuat sekali dalam kerongkonganku.

“Kalau bapak tidak bisa, tidak apa-apa…. Kita batalkan saja penjualan ini….” Ucap pak Mar memotong lagi. Memotong pembicaraan kami yang terakhir. Karena setelah itu aku dengar telepon diseberang diputus.

Giliran aku yang terpaku sekarang, dua lututku aku paksakan untuk menahan bobot tubuhku yang mulai gemetaran mau ambruk. Dengan gagang telepon masih ditangan, pikiranku segera melayang ke belahan bumi yang lain dimana anak2ku tengah duduk berdesak-desakan di dalam mobil yang sudah meluncur ke arah sini dengan membawa barang2 pindahan dari rumahku yang kini sudah jadi milik orang. Wajah mereka aku lihat berbinar2, karena merekapun memang sudah dari jauh2 hari membayangkan akan tinggal kembali di kota Jakarta yang ramai dipenuhi dengan mimpi2 yang menjanjikan.

Aku pijit tombol radial di telepon, terdengar nada terputus dari ujung sana… aku coba lagi…. Begitu dan begitu lagi suara yang terdengar…. Pak Mar sudah tidak mau lagi ngangkat gagang telepon…. Aku seakan divonis mati oleh orang yang baru aku kenal… yang aku kira ‘orang baik2 saja’, orang yang ‘baik hati’ sehingga mau menjual rumahnya dengan cara dicicil begitu….

Aku mau bilang, bahwa kami sudah tidak punya rumah lagi, anak2 dan barang2ku sudah ada diperjalanan ke sini, uang sudah ada di tangan kami….. mau diapakan uang sebesar ini di Jakarta yang butuh biaya hidup serba mahal. Uang sebesar ini tidak ada harganya buat membeli rumah di Jakarta…. Tapi pak Mar sudah memukulkan palu vonis di kepalaku, seperti seorang hakim yang ‘brangasan’, seperti malaikat Ijrail, seperti seorang konglomerat yang mencampakkan kami diantara tumpukan sampah, seperti…… yah sudahlah takdir Allah sudah menentukan begini…

Istriku ‘menggerung’ menahan tangisannya yang meledak, seperti suara mobil yang tengah menanjak sambil memikul beban berat dipunggungnya. Aku dekap istriku, biarlah dia nangis sejadi-jadinya di dadaku untuk beberapa saat.

“Allah sudah menentukan lain…” ucapku lirih, kepada istriku dan juga kepada hatiku yang terluka, tersayat, pedih, pedih sekali.

“Yah…. Sabarin aja Mah…. Mungkin Allah sedang menguji keimanan kita…”, hiburku buat istriku, dan buat hatiku sendiri. Entahlah istriku akan terhibur dengan ucapanku…. Karena aku sendiri tak yakin dengan ucapanku…

Setengah jam kami rembukan, untuk menentukan langkah selanjutnya…. Kami harus menghargai waktu sekarang, karena barang2ku yang akan tiba di Jakarta ini harus disimpan di mana, sedang waktu sudah merambat sore…. Sebentar lagi malam akan tiba...

Kami lanjutkan pembicaraan kami diatas sadel motor vespaku yang mulai merayap menyusuri hingar bingar kota Metropolitan. Berbagai solusi terlontar dari mulut kami, untuk segera kami putuskan dalam waktu yang mendesak ini.

Kalau aku bawa ke rumah mertua yang di Kramat Pulo….. mungkin untuk sebagian kecil barang2 bisa tertampung, tapi yang sebagian besarnya mau diapakan? Ah… gak mungkin kami numpang di rumah mertua….

Mau dibawa ke rumah orangtuaku di Bandung…. Mana mungkin perjalananan malam begini ke sana, mereka pun belum kami beritahu ihwal kepindahan kami ini, dan yang terutama sekali ongkosnya dari mana kami dapatkan dalam waktu sesingkat ini….

Aku mencoba mampir ke seorang kenalanku yang pernah menjabat sebagai DPRD dengan harapan mungkin bisa membantu atau paling tidak memberi jalan keluar, tapi beliau hanya bisa menghibur dengan mendoakan agar kami segera mendapatkan jalan terbaik yang harus kami tempuh. Sabarrrr.. itulah amanat yang beliau tanamkan di kepalaku.

Kata ‘Sabar’ mungkin tidak berlaku dalam keadaan mepet seperti ini Pak, biarlah akan kami pakai setelah semuanya ini berakhir, gerutuku (maaf ya Pak, saya berterus terang sekarang).

Waktu mobil yang membawa barang2 kami tiba, dan barang mulai diturunkan di pinggiran jalan, aku mulai merasa gerah. Bukan karena udara luar yang mulai merayapi badan, tetapi karena perasaan dan pikiran yang tidak karuan, sama halnya dengan istriku. Kami belum mendapatkan lokasi untuk menyimpan barang2 kami, untuk berlindungnya anak2 kami. Tetapi kami harus efisien dan tidak boleh salah lagi dalam mengambil keputusan untuk memecah-mecah uang kami, sebab uang ini bukan uang hadiah atau berasal dari ‘uang kaget’, tapi dari hasil penjualan rumah kami, yang latar belakangnya dari hasil jerih payah, banting tulang, kerja kerasku sedari bujangan dulu. Berarti itu adalah satu-satunya modal yang boleh dibilang yang aku tabung selama hidupku. Aku harus jadiin modal lagi buat meringankan hidupku dimasa datang.

Jarum jam di warteg seberang jalan menunjukkan pukul 9 lebih 15 waktu terlintas dalam ingatanku, ada seorang tetangga mertuaku yang katanya mau jual rumah seharga 28 juta, belum laku2 sampai sekarang. Karena memang letaknya agak susah, ada di sebuah gang kecil diantara rumah2 petak. Ukurannya kecil, hanya 2,5 x 5 meter, semi permanen, dibawahnya ditembok, lantai dua kayu semua yang agak berantakan, dan dibagian atapnya dibikinkan sebuah kamar yang kecil untuk memanfaatkan ruang kosong diantara plafon rumah dan genteng. Aku pikir cukuplah muat semua barang2ku kalau disusun rapi, biarlah tidak semua dipajang semestinya, yang penting bisa masuk dan kami bisa tidur malam ini dalam sebuah rumah, bukan di jalanan, layaknya orang yang tidak punya rumah.

“Saya berniat beli rumah itu, tapi saya mau nyoba dulu dengan ngontrak selama 1 tahun. Disamping uangnya baru terkumpul seluruhnya dalam setahun ini dan juga untuk mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, apa keluarga saya bisa cocok nggak dengan rumah ini, namanya kalau beli rumah kan bukan buat satu dua hari, tapi untuk selamanya”. Begitu ucapanku pada pemilik rumah itu. Entah karena melihat iming2 uang yang akan segera saya serahkan dalam beberapa detik ini untuk dia (maaf ya Bu, jangan tersinggung) atau karena kasihan melihat kondisi saya saat itu atau karena pertimbangan lain, saya tidak tahu. Yang jelas, kalau sama yang lain dia tidak mau mengontrakkan rumah itu, karena memang hanya berniat menjualnya. Tapi kalau sama kami dia langsung saja menyetujui permintaan kami. “Dil” pembicaraan kami, maka barteranlah beberapa lembar uang ratusan ribu dengan sepotong kunci rumah.

Mertua dan adik2nya istri segera membersihkan rumah, dan aku bersama istri segera shalat dan bersujud syukur, paling tidak mensyukuri kami bisa segera menempati sebuah rumah tetap mulai malam ini meskipun statusnya hanya ngontrak.

Para pembaca, secuil kisah ini aku hadirkan hanya untuk mengenang peristiwa musibah buat keluargaku, dan untuk pelajaran buat saudara2 pembaca agar tidak mudah percaya sama orang terutama di kota besar seperti Jakarta ini. Jangan seperti kami, karena kami biasa jujur sama orang dan selalu berusaha untuk bisa dipercaya orang, sehingga akhirnya kami gampang sekali mempercayai orang baru, yang ternyata bisa menjerumuskan kita pada kesengsaraan hidup. Kesepakatan HITAM DI ATAS PUTIH, walaupun hanya selembar, kiranya perlu sekali dilakukan untuk meneguhkan suatu perjanjian, terutama jual beli. Karena yang ‘selembar’ itu bisa kita jadikan senjata bila terjadi masalah pengingkaran dari perjanjian yang sudah disepakati. (Sekian)

Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.