Senin, September 05, 2011

LEBARAN YANG BERAGAM

Hari ini Senin, 29 Agustus 2011, aku bersama anakku yang paling gede berangkat ke Bandung, mencoba-coba mudik Lebaran dengan menggunakan kereta odong-odong, yakni kereta rakyat yang murah meriah, dari stasiun Cikarang Bekasi menuju stasiun Purwakarta. Nanti dari Purwakarta ganti kereta yang menuju ke Cibatu Garut, dan turunnya di stasiun Bandung.

Lebaran tahun ini adalah lebaran yang paling prihatin buat keluargaku, karena uang THR yang didapat dari kantor dimana aku kerja, hanya dicairkan satu bulan gaji pokok saja. Padahal, ini padahalnya…. Uang THR ini sudah dari jauh-jauh harinya dicanangkan sebagiannya buat nutupin utang-utang kepada tetangga yang aku pinjam buat anak sekolah dan buat modal dagang di warung kecilku.

Ada dua alasan memang yang membuat aku ambil keputusan berangkat berdua saja sama anak ke Bandung dan merayakan lebaran disana bersama orang tuaku, sedangkan istri bersama 3 anak lainnya berlebaran di Jakarta di rumah orangtuanyanya alias mertoku. Alasan pertama yaitu tadi karena Uang THR yang tidak memungkinkan buat ongkos pulang rame-rame ke Bandung, dan yang keduanya karena anakku yang baru 14 bulan sudah diwanti-wanti sama dokter yang pernah merawatnya di rumah sakit agar anak itu jangan dulu diajak jalan jauh-jauh, agar kondisinya tidak lebih parah dari sekarang. Anakku pernah kejang-kejang beberapa hari lalu sampai-sampai harus dilarikan ke rumah sakit, untung saja tidak sampai dirawat.

Kalau aku tidak pulang berlebaran di Bandung, aku tidak tega sama orang tuaku, karena tahun lalu saja kami berlebaran di Jakarta, sedangkan aku adalah anak satu-satunya yang mereka punya. Gimana perasaan mereka kalau melihat orang-orang lain yang punya banyak anak dan jauh-jauh tinggalnya bisa pada ngumpul semua, sedangkan orangtuaku yang hanya punya anak aku seorang, tinggal tidak begitu jauh dari Bandung, tidak bisa pulang. Satu alasan tambahan kenapa aku harus berlebaran di Bandung, karena anakku yang kedua yang aku titipkan di orang tuaku semenjak bayi… diapun mengharapkan kami pulang saat lebaran ini.

Alhamdulillah, dalam kereta api semenjak dari Cikarang, sampai di Purwakarta, dan disambung lagi menuju ke Bandung, enak sekali rasanya, tidak penuh sesak seperti biasanya, malahan bisa selonjoran sampai bosen sendiri. Kata orang-orang yang sehari-hari naik kereta itu, kalau kemarin-kemarinnya padat sekali, tapi hari ini karena hari takbiran, yang pada pulang mudik sudah habis, jadi tinggal sisa-sisanya saja yang ada dalam kereta ini sebagai penumpang mudik, termasuk aku bersama anakku.

Sampai di Bandung, berbagai persiapan untuk menyambut datangnya hari Lebaran di keesokan harinya sudah dimulai sejak pagi, dari mulai membuat ketupat, membuat sayur lauknya ketupat, bersih-bersih rumah dan perabotan di ruang tamu sampai ke menyisihkan sebagian beras secukupnya buat zakat fitrah.

Saat tiba waktunya berbuka puasa di hari terakhir itu, kami jalani sebagaimana biasanya, dengan penuh sukacita meskipun dengan hidangan seadanya. Maklum keluargaku bukanlah keluarga keturunan orang berada. Dan meskipun ada lauknya yang istimewa, kan itu jatah buat hari Lebaran besok hari.

Baru pada saatnya dikumandangkannya azan Isya, masyarakat di sekitar tempatku berada pada kebingungan, setelah shalat Isya apa langsung mau mengumandangkan takbiran atau harus shalat tarawih lagi, karena pengumuman dari Menteri Agama RI sebagai acuan untuk menentukan besok lebaran tidaknya belum juga kunjung terdengar.

Tapi begitu yang ditunggu-tunggu itu tiba, pengumuman itu, banyak orang yang terperangah, bingung, “1 Syawal yang tertera di kalender tanggal 30 Agustus itu diundur menjadi tanggal 31 Agustus lusa”.

Banyak masyarakat yang sudah berkumpul untuk melaksanakan takbiran keliling akhirnya bubar, ada pejabat yang terpaksa meralat jadwal open house, dengan sendirinya pihak penyedia tempat dan makanan harus menanggung resiko kerugian akibat dimundurkannya hari ‘H’ nya itu. Pelaksanaan Shalat Tarawih terpaksa diundur sampai jam 8 lewat, padahal biasanya kan dilaksanakan begitu selesai shalat Isya.

Ada ustad yang hidupnya pas-pasan karena hidupnya terlalu jujur, terpaksa harus menambal lagi nyari nafkah dari kerjaan sampingan untuk nutupin satu hari lagi berpuasa, padahal sudah siap-siap untuk menerima imbalan dari khutbah Idul Fitrinya pada hari besok yang memang sudah dicanangkan buat keperluan lebaran.

Ada masyarakat yang terpaksa harus mengelus dada dan menahan dagu begitu tibanya hari ‘H’ nya lebaran itu, karena biaya buat lebaran yang memang pas-pasan sudah dibelanjain semua buat lebaran tgl 30 Agustus, terpaksa dimakan dan dipakai di hari terakhir bulan puasa, dan pada hari lebarannya yang tgl 31 Agustus itu harus nahan lapar.

Gak jauh berbeda dengan keadaan keluargaku, aku sudah ditelponin bini dari Jakarta yang katanya sudah kehabisan uang dan makanan buat hari lebaran yang diundur itu. Puyenglah jadinya aku. Pening…. Pening….. begitu kata bang Poltak.

Dari sisi keagamaan memang dengan diundurnya hari Lebaran itu jadi untunglah kita karena nambah satu hari lagi peluang buat beribadah di bulan Ramadhan ini, tapi disisi yang lain…. Ya…. Itu tadi…. Pening… pening…… peninglah aku…

Memang kejadian Lebaran yang berbeda-beda ini sudah seringkali terjadi di negeri ini, yang paling parah yah tahun 2011, gimana tidak masa’ ada yang lebaran hari Senin, Selasa, Rabu, bahkan hari Kamis.

Selaku orang awam seperti saya ini, hanya bisa berharap kapan di negeri ini para pemimpin agama Islam ini bisa bersatu, paling tidak bisa menyatukan pendapat dan menggiring umatnya dalam persatuan. Jangan sampai kejadian yang diramalkan Nabi Besar Muhammad SAW dulu dalam sabdanya: akan tiba masanya dimana umat Islam ini besar sekali tapi seperti buih di lautan, yang mudah sekali dicerai beraikan oleh ombak atau umat lain. Padahal umat Islam di negeri ini adalah mayoritas, bahkan terbanyak dan terbesar di seluruh dunia, tapi mengapa tidak mampu seiring dalam menentukan sesuatu yang menyangkut hajat orang banyak seperti penentuan hari ‘H’ nya lebaran ini.

Saya pikir kita sudah waktunya punya para pemimpin yang konsisten dan konsekuen baik waktu dia belum duduk ataupun sudah duduk menjadi petinggi-petinggi pemerintahan, dia bisa memimpin umat, mengayomi umat dan melindungi umat tanpa harus takut dipecat karena keteguhan niatnya dalam berjalan dikoridor keagamaan yang diyakininya.

Eh…. Ko’ saya jadi bicara soal politik ya….. maaf, tapi memang itulah yang terbersit dalam pikiran saya setelah melihat kenyataan hidup ini.

Kembali ke masalah lebaran yang berbeda-beda ini, saya selaku rakyat awam yang tidak tahu apa itu sidang isbath, hisab atau perhitungan jalannya bulan ataupun rukyat dengan pengamatan hilalnya. Yang terpenting berharap kalau dikalender sudah ditentukan tanggal 1 Syawal sebagai hari Lebaran itu, ya harus itulah yang kita pakai sebagai penentuan yang sudah digariskan pemerintah yang harus kita ikuti. Mudah-mudahan dengan begitu tidak menjadikan umat ini bingung, dan tidak terjadi lagi dualisme hari Lebaran.

Dan yang terakhir harapan saya, mudah-mudahan di hari yang fitri ini anda pembaca tulisan ini bisa memaafkan celotehan saya selama ini, sampai saat ini. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir Batin.

Selasa, Juli 26, 2011

PAKU Kehidupan

PAKU. Sepanjang jalanan yang aku lalui dari kawasan industri Jababeka, menyusuri tepian Kali Malang, sampai di Jalan Mayjen D.I. Panjaitan, Casablanca, Tanah Abang sampai di Jatibaru, aku berhasil mengumpulkan kurang lebih 2 ons logam keras yang berujung lancip itu. Benda itu bertebaran di jalan raya yang biasa dilalui kendaraan besar dan kecil. Kondisinya dari yang sudah berkarat dan bengkok sampai yang masih lurus dan mengkilat. Ada yang begitu saja tergeletak di atas jalan raya atau disamping ‘polisi tidur’ ataupun ada yang nancap di karet sandal jepit atau kayu.

Aku memang iseng hari itu, dari pagi sampai siang hari berjalan sambil mendorong motor ‘bravo’ tuaku berpuluh kilo meter jaraknya dari rumahku yang terletak di Cikarang Bekasi menuju ke tempat kerjaku di daerah Tomang Jakarta Barat. Suatu perjalanan yang sangat melelahkan dan menyedihkan, tapi memang harus aku lakukan biar sampai di tujuan, untuk mencari nafkah buat keluarga.

Bensin di dalam tangki ‘bravo’ ku hanya cukup buat perjalanan dari keluar pagar rumah sampai di Jababeka, selanjutnya tangki bensin itu kosong ngegelontang sama sekali yang menyebabkan aku mesti jalankaki bergandengan dengan motor tuaku menghabiskan sisa perjalanan.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Seperti biasanya kalau aku pulang menafkahi keluargaku, semua penghasilan dari peras keringatku selalu aku serahkan semuanya ke tangan istriku. Biar dia yang mengatur2 untuk keperluan rumah tangga. Memang aku akui, aku sendiri tidak pandai untuk mengatur uang, ditambah karena memang uang yang dihasilkan sangat minim sekali, hanya naluri seorang ibulah yang bisa mengatur uang yang minim itu agar bisa dipergunakan seefisien mungkin. Aku memang salut dan bangga dengan kebisaan istriku. Terima kasih ya Allah, aku telah dikasih pendamping makhluk berjenis lain yang bisa membantu memecahkan masalah2 di kehidupan ini. Aku tidak mampu membayangkan jika aku hidup sendiri tanpa dia untuk mengurusi ke lima anakku yang semuanya sangat memerlukan perhatian tersendiri.

Berangkat kerja pagi itu, aku hanya kebagian jatah uang delapan ribu perak buat bensin dari istriku. Aku hanya bisa menelan ludah dan mengurut dada. Sudah terbayang dikepalaku berapa puluh kilometer aku harus berjalan kaki setelah bensin yang bisa dibeli dengan uang segitu, habis. Tapi demi mencari nafkah buat keluarga yang harus aku hasilkan dari bekerja di tempat kerjaku di Jakarta itu, aku harus lakonin. Jadilah aku mengumpulkan benda2 berbentuk silinder berbahan dasar besi-baja dan berujung runcing itu.

Daripada hanya mengutuki nasib yang kian tak menentu di jaman seperti ini, sepanjang perjalanan itu, aku pungutin logam2 itu sambil berharap dalam hati mudah2an jadi amal kebaikan, karena akan sedikit mengurangi resiko kempesnya ban kendaraan2 orang lain yang melintasi di jalan itu.

Tapi di sisi lain, aku memunguti benda2 itu sambil bersumpah serapah juga. Karena akibat dari benda ini pernah suatu hari aku diceramahi, disumpah serapahi dan dibiarkan kelaparan oleh ibunya anak2 karena aku pulang hanya membawa uang sekedarnya, malahan hp ku aja aku agunkan di tukang tambal ban. Sehari itu ban motor ku kempes 4 kali yang paling parah yang terakhir kali, karena yang nancap paku bengkok berukuran 5 cm yang membuat ban dalam motorku robek tidak bisa ditolong dengan ditambal. Akhirnya aku ganti dengan yang baru dan aku nitipkan hp ku karena uang di dompetku tinggal jatah belanja buat orang rumah itupun sudah banyak berkurang terpakai buat nambal. Oh nasiiiibb…

Kenapa pak? Bensinnya habis? Mogok? Aku hitung ada 6 orang yang berbaik hati para lelaki yang kebetulan lewat menanyakan itu padaku, sambil menawarkan untuk mendorong motorku. Aku tolak dengan sopan. “Saya dorong sambil nunggu teman yang mau jemput, terima kasih”. Mereka pun berlalu mendahuluiku. Aku gak mau menyusahkan mereka, karena malu pada diri sendiri, dulu sewaktu aku bawa vespa sering juga ditolong orang kalau mogok, tapi aku sendiri belum bisa nolong orang lain karena ilmu perbengkelanku masih nol, dan aku paling gak bisa men-step motor mogok dengan kakiku.

Ada 2 diantara mereka yang pasti menggerutu dalam hatinya karena aku tolak ajakan mereka, gimana aku gak nolak…. Aku gak punya uang sepeserpun sedengkeun mereka itu kan perlu buat nguber setoran, karena mereka itu tukang ojek motor…. Tapi lucu juga kan….. kalau tukang ojek dimintain duit ngojek sama tukang ojek lagi…. (aku kan suka ngojek juga diluar jam kerja, alias tukang ojek malam)

Kembali ke soal benda yang selalu berdampingan dengan martil atau palu besi itu, aku jadi berpikir, apa mungkin benda2 itu berasal dari mobil toko bahan bangunan yang ngangkutnya dan secara tak sengaja berjatuhan di jalan, atau karena orang2 yang tega dengan sengaja menyebarkan benda itu di jalanan. Sungguh busuk hati mereka itu. Tapi kalau mereka itu rakyat kecil yang karena terpaksa melakukan itu karena tuntutan dapur, gimana hukumnya ya dalam agama kita? Eh tapi ada yang lebih busuk lagi yaitu kalau ‘paku’ itu ditebarkan dengan tujuan untuk menjegal lawan politiknya agar tidak bisa maju melesat melewati dia yang bekerja dengan lemah gemulai dan bermalas-malasan. Itu kebusukan yang parah bukan?

Ah, sengaja tempatnya para pemimpin politik di Senayan sana aku tidak lewati, aku lebih suka menyisir jalanan pinggiran kota ke arah Tanah Abang, Jatibaru dan Kota Bambu. Ke tempatnya rakyat negeri ini bergelut dengan kenyataan hidup di lapangan yang kumuh dan kotor tapi jauh dari politik2 kotor.

Terakhir….. Ternyata PAKU dan KOTOR itu telah membuat kesusahan yang lebih parah padaku. Di jalanan yang berdebu karena sudah lama hujan tidak melintas di kota Metropolitan ini, benda tajam dan berkarat juga kotor itu sudah nancap di sandal yang aku pakai, nembus sampai melukai telapak kakiku. Aku tertatih2 minggirin motorku, dan duduk sambil menahan rasa sakit di kaki dan sakit di dadaku, karena jantungku berdebar sangat kencang akibat kecapean.

Setengah jam kemudian aku baru bisa bernapas agak lega, dengan sekaan keringat terakhirku aku memarkirkan motor tuaku di parkiran rumah sakit, dimana kantorku bertengger di sana. Alhamdulillah sampai juga di tujuan.

Dan sampai jumpa di tulisan lain.

Minggu, Juni 26, 2011

BUNGKUS MLM

Dalam rangka kebingungan mencari duit tambahan buat dapur, aku telusuri internet, dan aku dapatkan sebuah alamat yang membuka lowongan pekerjaan part time untuk pengeleman kantong teh Rosela. Ah kerjaan yang gampang itu, pikirku.

Begitu sampai dialamat, aku disambut ramah beberapa orang Bapak-bapak yang lagi pada duduk sambil ngobrol di tempat yang biasanya ditempati satpam (kalau di kantor lain), satu diantaranya menyambutku dengan ramah, sambil nyalamin tanganku. Akupun membalas sembari menanyakan nama pak Janri, karena menurut SMS yang aku dapat dari back link internet, suruh menghubungi nama itu. Bapak penyambut mempersilahkan masuk ke dalam.

Sebetulnya begitu mau masuk itu kantor ada perasaan ragu dalam hati karena dari dalam kantor ada beberapa cewek keluar, dua diantaranya kayaknya bencong gitu (maaf, karena gak tahu kenapa dari dulu aku selalu merinding kalau ketemu orang macam itu.... gak tahu kenapa). Kantor apa ini?

Di dalam ada sebuah meja dengan tulisan pendaftaran di atasnya dan beberapa kursi kosong yang ngadep ke meja itu, mungkin memang tempat tunggu tamu. Di meja pendaftaran ada beberapa orang cewek lagi, ditambah lagi cewek yang bencong tadi yang ngikutin aku masuk, satu diantara mereka yang memang mungkin bagian pendaftaran langsung mempersilahkan duduk, dan langsung menyodorkan selembar kertas formulir isian berwarna kuning.

“Silahkan isi formulirnya, daftarnya di sini dan administrasinya 10 ribu”, kata ibu pendaftar tanpa basa basi lagi.

Aku langsung ngisi formulir itu dan langsung menyerahkan uang 10 ribu berikut foto copy KTP, sebenarnya bagian pendaftaran seh gak minta foto copy itu, tapi karena di SMS yang aku terima itu salah satu persyaratannya adalah fc KTP. Dan aku pikir itu memang wajar sebuah kantor yang akan mempekerjakan orang pasti harus memegang data2 dari orang yang baru dikenalnya.

Baru aku mangap mau nanya ini itu setelah menyerahkan formulir itu, ibu pendaftar itu langsung nyeletuk:

“Silahkan bapak duduk dulu, tunggu diwawancara di dalam nanti.”

Akupun ngeloyor ke sana, aku pikir gak sopan kalau bertanya-tanya, sementara dari wajah ibu pendaftar tidak tampak wajah yang ‘well come” untuk menerima pertanyaan2..

Tak lama ibu pendaftar itu laporan sama seorang bapak yang tadi lagi di luar, terlibat pembicaraan sebentar diantara mereka, dan sebentar kemudian Bapak-bapak itu masuk sambil membawa formulir aku yang diserahkan oleh ibu pendaftar tadi. Beliau mempersilahkan masuk ke ruangan tengah dimana disana sudah terdapat 4 meja. Aku dipersilahkan duduk disalah satu meja, eh... kursi tentunya dimana beliau sudah duduk duluan.

Bapak itu menyalamiku memperkenalkan namanya sembari menunjuk pada kartu ID yang tergeletak di mejanya. Selintas aku melihat nama di ID card itu, initialnya NS kalau tidak salah, rasanya gak sopan juga kalau aku perhatikan sejelas2nya nama ataupun foto yang ada di ID itu.

“Sekarang tinggal dimana pak A”? pertanyaan pertama muncul dari Pak NS.

“Di Johar Baru, Jakarta Pusat Pak,” jawabku.

“Oh, ..... baik Pak A, sebelumnya saya mau memperkenalkan dulu perusahaan. PT HDN adalah perusahaan swasta yang bergerak dibidang perindustrian dan perdagangan, salah satu produknya adalah teh rosela ini.” paparnya sambil memperlihatkan sebuah kardus ukuran dos teh sariwangi.

Selanjutnya beliau menjelaskan cara kerja pengeleman kantong teh itu. Aku betul-betul perhatikan semua itu. Dan aku pikir.... kayaknya mudah bener cuman ngelem segitu doang... satu box kayaknya gak bakalan berhari-hari ngerjainnya. Satu dus yang berisi 250 kantong itu dihargai 70 ribu. Wah enteng bener kayaknya....

“Pekerjaan ini boleh dibawa pulang dan dikerjakan di rumah Pak” ucapnya.

Aku cuman manggut-manggut sementara yang ada dibenakku waktu itu, aku sedang menghitung-hitung berapa dus bisa aku garap dalam satu minggu... dikali sekian... bakalan dapet sekian...

“Syaratnya Bapak harus punya ID Card PT HDN, dengan membayar keanggotaan GMS , pembinaan, sistem, produk, dan lain-lain...” ucap beliau sembari mencoret-coret kertas kuning berisi tulisan dan angka-angka, yang belakangan aku tahu itu adalah sebuah formulir lembar wawancaranya PT HDN itu. Dimana didalamnya mengandung keterangan berupa angka-angka komisi dan bonus-bonus yang katanya akan diberikan setelah pengerjaan berlangsung.

“Bila bapak bayar sekarang 250 ribu, ID Card nya langsung bisa ditunggu, dan bapak langsung bisa membawa pulang pekerjaan nya.” ucapnya meneruskan.

Hah.... seterusnya aku jadi kaget. Terus aku berpikir 250 ribu dari mana lagi nyari uang segitu? Terus pikiranku menerawang lebih jauh lagi...

“Bagaimana pak, mau ambil sekarang?” kata beliau membuyarkan terawanganku.

“Tapi....,” baru aku mau ngomong kalo aku gak punya uang, kalo mesti bayar segitu gede mah.

Rupanya beliau maklum, kalau aku orang bokek atau ragu2, karena beliau langsung memberikan solusi:

“Silahkan bapak rembukan dulu sama istri di rumah, nanti kalau mau, datang besok sekalian sama istri, biar tahu sekalian.”

Beliau melipat2 formulir pendataranku tadi bersama formulir wawancara itu dan sebungkus kantong teh yang sudah jadi. Lalu memasukkan kedalam sebuah amplop, yang kemudian amplop itu dilem dan dikasihkan ke tanganku.

“Kami tunggu ya Pak”, ucap beliau menutup wawancara. Mungkin sekaligus mempersilahkan aku pulang secara tidak langsung. Meskipun penampilannya masih ramah seperti waktu pertama datang, tapi di wajahnya aku menangkap sedikit kekecewaan, karena aku tidak bawa uang pendaftaran yang 1/4 juta rupiah itu.

Aku langsung nyalamin beliau dan ngeloyor keluar dengan lemes. Ah... duit 250 ribu dari mana aku dapat, 10 ribu aja yang tadi aku serahkan ke bagian pendaftaran itu hasil aku ngumpulin 4 hari lho.... sisa2 beli bensin dari ngojek malem.

Kalau sehari ada 10 orang aja seperti aku, yang datang ke PT itu dengan maksud mau nyari duit tambahan, tapi kebentur uang yang 1/4 juta itu, pulang lah dengan tangan hampa..... Sementara PT itu mendapatkan 10 x 10 ribu uang pendaftaran yang datang sendiri, kan jadi 100 ribu, belum lagi kalau seharinya ada 100 orang, maka dalam sebulan bisa mencapai angka 26 dengan 5 nol dibelakangnya. Dua juta enam ratus bro...

Penasaran aku buka2 internet lagi untuk mencari nama PT HDN, maka yang pertama aku temukan adalah alamat www.kaskus.us yang didalamnya ada beberapa komentar....... satu diantaranya memaparkan kekecewaannya karena seolah2 dipaksa untuk mengeluarkan uang untuk pendaftaran yang 10 ribu dan diwawancara, yang sebenarnya bukan seperti layaknya wawancara di perusahaan lain, tapi nota bene menerangkan cara ngelipet packing teh doang, persis banget seperti yang aku alamin diatas.

Lalu satu lagi diantaranya, paparannya berisi kekecewaan saudara penulis yang di awal2nya disuruh bayar Rp.250.000,- lalu dikasih 1 kotak berisi bungkus2 teh yang belum dilem jumlahnya 250 lembar, lem dan 1 buah cotton buds untuk dikerjakan di rumah. Ternyata memang mudah sekali pengerjaannya hanya 1 jam sudah selesai. Besoknya mengembalikan kotak sambil mau mengambil duit komisinya. Satu kotak yang dihargai semula 70 ribu itu dipotong ADM, dll, total diterima cuman 63 ribu.

Nah Disini Busuknya Keluar....(maaf aku kutipkan ‘omelan’ asli dari paparan itu). Kita, katanya, gak bisa mengambil kerjaan lagi (ngelem kantong teh), tapi kita mesti ngajak orang lain 1 orang baru. Barulah kita akan dikasih kerjaan teh lagi. Si orang baru itu mesti bayar lagi 250 ribu. Begitu seterusnya... besoknya mesti ajak orang lain lagi.... lagi dan lagi... BERRRARTI..... ini kerjaannya MLM Model baru lagi.... (maaf kalau salah karena aku nggak tahu persis model2 MLM yang lainnya).

Karenanya aku cuman mau sharing aja buat para pembaca, pengalaman aku dan netter lain. Tapi kalau gak percaya silahkan dicoba aja.... barangkali mau bersedekah 10 ribu aja dulu buat pendaftaran, dan jangan kaget kalau disuruh bayar 250 ribu setelah itu.....

Ini contoh brosur yang mereka bagikan di jembatan penyeberangan persimpangan Daan Mogot - Kyai Tapa - Letjen S. Parman


Dan ini contoh bungkus teh yang sudah kita lem, yang jumlahnya 250 dalam satu kotak itu.


Selasa, Mei 24, 2011

TIDUR YANG BERJALAN

“Pijay….. Pijay….. Pijay habisss….” Lamat-lamat suara orang berteriak-teriak, suara itu begitu jauh dan kecil terdengar di telinga.

Aku mencoba memicingkan sebelah mata, sangat berat, tapi aku paksakan juga. Dari pemandangan luar yang aku bisa tangkap hanya dari segaris pintu pelupuk mata yang terbuka aku melihat kendaraan berseliweran, orang-orang lalu lalang, terus gedung-gedung tinggi menjulang.

Ah…. Sudah nyampe mana ini? Stasiun berikutnya apa ya? Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru apa Cawang yah?... Aku sangat ngantuk sekali hari ini. Aku kepagian pulang kerja semalem, jam setengah lima Subuh baru nyampe pintu rumah. Gara-gara mobil omprengan di Pasar Minggu itu yang lama sekali menunggu penuh penumpangnya, jadinya tambah lama lah kita nongkrong di terminal darurat Pasar Minggu, dan tambah malam/menjelang pagi lah kita nyampe di rumah.

Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, sudah berjalan 3 tahunan bahkan, aku pulang kerja dari Jalan Percetakan Negara Jakarta Pusat jam setengah dua belas malam, jalan menyusuri kegelapan malam diantara perumahan orang2 yang beruntung (aku sebut orang2 beruntung… karena buat aku yang ‘tidak seberuntung’ mereka, hanya punya rumah jauh di ‘daerah terpencil’ di Citayam sanah, jauh dari hiruk pikuknya kota Metropolitan ini).

Sampe di Jalan Pramuka Raya, dilanjutkan dengan menyusuri jalan itu ke Jalan Tambak sampai Terminal Manggarai. Dari sana aku naik mobil omprengan ke Pasar Minggu. Tiba di Pasar Minggu, disana sudah menunggu mobil2 omprengan yang ke Pasar Kemiri Depok, terus disambung lagi naik angkot biru 05 jurusan Bojong Gede. Tapi kalau mau sekali naik mobil harus jalan lagi ke arah Lenteng Agung menyusuri pinggiran rel Kereta Api. Dipojok dekat palang pintu KA itulah ada sebuah halaman yang tidak begitu luas depan sebuah apotik kalau malam setelah ‘kereta terakhir’ ke arah Timur lewat, dipakai pangkalan terminal dadakan buat mobil angkot biru 05 yang sengaja ngompreng menjemput orang yang ketinggalan ‘kereta terakhir’. Angkot biru itu sebetulnya bertrayek Depok-Bojong Gede, namun kalau sudah malam begitu, mereka dengan setia suka nunggunya di pojokan Pintu kereta Pasar Minggu itu, tentunya dengan ongkos berlipat ditambah jarak Pasar Minggu-Depok.

Mau mobil omprengan ke Pasar Kemiri Depok ataupun mobil angkot ngompreng itu sama saja, mereka akan setia menunggu penumpang, sampai benar-benar penuh sesak, baru mau jalan. Mereka tak segan-segan mengusir penumpang yang tidak sabaran. Bagi kami sang penumpang, hanya bisa mengurut dada, dan menekan dalam2 sumpah serapah karena kesal saking lamanya nunggu mobil jalan. Tapi tidak ada pilihan lain buat kami, terutama orang seperti aku yang selalu menggantongi ongkos pas-pasan malah seringnya cekak.

Saking kelamaannya nunggu penumpang penuh, sampai2 kami sering ketiduran sambil duduk, dan saking pulasnya aku sering dibangunin kernet kalau sudah sampai Pasar Kemiri kalau naek mobil omprengan, dan sering kebablasan ke Bojong Gede kalau naek angkot yang ngompreng itu. Ujung-ujungnya harus jalan kaki balik lagi dari Bojong Gede ke arah Citayam karena sudah tidak ada lagi angkutan yang ke arah balik. Begitu sampai di Bojong mereka langsung tertidur di sana.

Saking kelamaannya nunggu itu, aku sering terpaksa makan sahur (bulan Ramadhan) di Terminal Depok, karena kalau dipaksakan pulang, azan Subuh baru sampe rumah.

Dan saking kelamaannya nunggu itu pula, nyampe rumah menjelang Subuh, habis Shalat aku ketiduran, dan jam setengah delapan pagi sudah dibangunkan lagi, buat siap-siap berangkat kerja lagi. Jelaslah…. Waktu tidur yang hanya 3 jam itu, setiap hari, membuat aku selalu ketiduran di perjalanan baik itu di bis, angkot atau di dalam kereta api.

Hah…. Sekarang aku sudah didalam angkot atau kereta api yah……? Aku tersentak seperti kena petir di siang bolong. Mata aku paksakan untuk terbuka lebar, biar jelas bener lihat sekeliling... Kendaraan yang berseliweran. Orang-orang yang lalu lalang. Dan gedung-gedung yang tinggi menjulang itu begitu dekat… Eh… ko.. Gedung-gedung itu turun seperti amblas ke bumi….. Ya ampun bukannya amblas… tetapi mereka itu turun… dan aku yang naik ke tanjakan…. Yah… tanjakan jembatan…. Jembatan Tomang???

Aku kaget sekaget-kagetnya….. setelah sadar kalau aku sudah ada di atas jembatan Tomang, berarti aku sudah di dalam bis, bukan lagi di dalam kereta api, dan Stasiun kereta Cawang dimana aku selalu turun dari kereta sudah terlewat jauh… yang baru terlewati adalah Rumah Sakit Harapan Kita, Mall Taman Anggrek dan Untar. Yah….. kelewatan lagi deh….

Aku terpaksa turun di halte Citraland, beberapa halte setelah halte Rumah Sakit dimana dimana kantorku bertengger. Itupun setelah aku berusaha sekuat tenaga buat bangkit dari tidur dan dengan segenap kemampuanku untuk mencerai beraikan penumpang dari kepadatannya, dan melakukan loncatan terakhir dari pintu bis ke tepian jalan.

Huh… untung aku selamat, kakiku tidak terkilir, atau babak belur karena terseret bis yang sudah mulai bergerak.

Hari ini pun aku harus berjalan kaki lagi naik jembatan penyeberangan lalu menyusuri jalan S. Parman ke arah balik, karena memang tempat ‘nyangkul’ ku sudah kelewatan.

Seandainya tadi aku sadar kalau yang teriak2 itu kernet… yang mengingatkan bahwa bis sudah sampai Slipi Jaya (biasa disingkat Pijay), tentunya aku harus segera bangun dan bersiap-siap karena di halte berikutnya aku harus turun, dan tentunya aku tidak akan makin terlambat sampai di kantor, dan tentunya lagi aku tidak terlalu kecapaian karena harus jalan kaki sebab duit di dompet hanya cukup buat ongkos entar pulang malam.

Lagi-lagi terlambat, lagi-lagi datang kesiangan, lagi-lagi si Bos ngomel, lagi-lagi Ibu Bendahara dan Sekretaris melihat ke arahku sambil memicingkan mata ke arah jam dinding.

Ah… sudah tahu ko…. Aku terlambat….. dan absenku ditandai dengan lambang bintang…. Pertanda HARI INI UANG MAKAN DIPOT TONK alias dipenggal. Begitu gumamku dalam hati.

Memang kejadian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama setelah aku bertempat tinggal di daerah Citayam, yang kurang lebih 70 km dari tempat kerja. Dan setelah aku selalu pulang tengah malam karena setelah kerja di Rumah Sakit, aku masuk kerja lagi di sebuah Biro Jasa Percetakan. Sebab kalau tidak begitu…. Mana bisa aku bayarin rumah kreditan, ngasih makan anak bini, nyekolahin anak, dan biaya ini itu di jaman seperti ini. Itupun aku harus bersyukur jarang-jarang ada orang yang bisa bekerja di dua tempat dalam seharian.

Makanya sudah tidak heran lagi kalau aku suka ketiduran di kereta terakhir menuju pulang, dan bangun sudah mau sampai stasiun Bogor, dari sana mesti naek omprengan balik ke Bojong Gede dan melanjutkan dengan jalan kaki ke arah Citayam. Atau ketiduran di kereta waktu berangkat, yang aturan turun di stasiun Cawang…. Bisa-bisa turun di stasiun Manggarai, Cikini bahkan di Kota.

Memang aku sering ‘Tidur yang berjalan” tapi bukan ngelindur, alias bangun dari tempat tidur, terus jalan terseret-seret keluar kamar sambil mata masih tertutup rapat.

(*memoriku)

Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.