Minggu, Juni 26, 2011

BUNGKUS MLM

Dalam rangka kebingungan mencari duit tambahan buat dapur, aku telusuri internet, dan aku dapatkan sebuah alamat yang membuka lowongan pekerjaan part time untuk pengeleman kantong teh Rosela. Ah kerjaan yang gampang itu, pikirku.

Begitu sampai dialamat, aku disambut ramah beberapa orang Bapak-bapak yang lagi pada duduk sambil ngobrol di tempat yang biasanya ditempati satpam (kalau di kantor lain), satu diantaranya menyambutku dengan ramah, sambil nyalamin tanganku. Akupun membalas sembari menanyakan nama pak Janri, karena menurut SMS yang aku dapat dari back link internet, suruh menghubungi nama itu. Bapak penyambut mempersilahkan masuk ke dalam.

Sebetulnya begitu mau masuk itu kantor ada perasaan ragu dalam hati karena dari dalam kantor ada beberapa cewek keluar, dua diantaranya kayaknya bencong gitu (maaf, karena gak tahu kenapa dari dulu aku selalu merinding kalau ketemu orang macam itu.... gak tahu kenapa). Kantor apa ini?

Di dalam ada sebuah meja dengan tulisan pendaftaran di atasnya dan beberapa kursi kosong yang ngadep ke meja itu, mungkin memang tempat tunggu tamu. Di meja pendaftaran ada beberapa orang cewek lagi, ditambah lagi cewek yang bencong tadi yang ngikutin aku masuk, satu diantara mereka yang memang mungkin bagian pendaftaran langsung mempersilahkan duduk, dan langsung menyodorkan selembar kertas formulir isian berwarna kuning.

“Silahkan isi formulirnya, daftarnya di sini dan administrasinya 10 ribu”, kata ibu pendaftar tanpa basa basi lagi.

Aku langsung ngisi formulir itu dan langsung menyerahkan uang 10 ribu berikut foto copy KTP, sebenarnya bagian pendaftaran seh gak minta foto copy itu, tapi karena di SMS yang aku terima itu salah satu persyaratannya adalah fc KTP. Dan aku pikir itu memang wajar sebuah kantor yang akan mempekerjakan orang pasti harus memegang data2 dari orang yang baru dikenalnya.

Baru aku mangap mau nanya ini itu setelah menyerahkan formulir itu, ibu pendaftar itu langsung nyeletuk:

“Silahkan bapak duduk dulu, tunggu diwawancara di dalam nanti.”

Akupun ngeloyor ke sana, aku pikir gak sopan kalau bertanya-tanya, sementara dari wajah ibu pendaftar tidak tampak wajah yang ‘well come” untuk menerima pertanyaan2..

Tak lama ibu pendaftar itu laporan sama seorang bapak yang tadi lagi di luar, terlibat pembicaraan sebentar diantara mereka, dan sebentar kemudian Bapak-bapak itu masuk sambil membawa formulir aku yang diserahkan oleh ibu pendaftar tadi. Beliau mempersilahkan masuk ke ruangan tengah dimana disana sudah terdapat 4 meja. Aku dipersilahkan duduk disalah satu meja, eh... kursi tentunya dimana beliau sudah duduk duluan.

Bapak itu menyalamiku memperkenalkan namanya sembari menunjuk pada kartu ID yang tergeletak di mejanya. Selintas aku melihat nama di ID card itu, initialnya NS kalau tidak salah, rasanya gak sopan juga kalau aku perhatikan sejelas2nya nama ataupun foto yang ada di ID itu.

“Sekarang tinggal dimana pak A”? pertanyaan pertama muncul dari Pak NS.

“Di Johar Baru, Jakarta Pusat Pak,” jawabku.

“Oh, ..... baik Pak A, sebelumnya saya mau memperkenalkan dulu perusahaan. PT HDN adalah perusahaan swasta yang bergerak dibidang perindustrian dan perdagangan, salah satu produknya adalah teh rosela ini.” paparnya sambil memperlihatkan sebuah kardus ukuran dos teh sariwangi.

Selanjutnya beliau menjelaskan cara kerja pengeleman kantong teh itu. Aku betul-betul perhatikan semua itu. Dan aku pikir.... kayaknya mudah bener cuman ngelem segitu doang... satu box kayaknya gak bakalan berhari-hari ngerjainnya. Satu dus yang berisi 250 kantong itu dihargai 70 ribu. Wah enteng bener kayaknya....

“Pekerjaan ini boleh dibawa pulang dan dikerjakan di rumah Pak” ucapnya.

Aku cuman manggut-manggut sementara yang ada dibenakku waktu itu, aku sedang menghitung-hitung berapa dus bisa aku garap dalam satu minggu... dikali sekian... bakalan dapet sekian...

“Syaratnya Bapak harus punya ID Card PT HDN, dengan membayar keanggotaan GMS , pembinaan, sistem, produk, dan lain-lain...” ucap beliau sembari mencoret-coret kertas kuning berisi tulisan dan angka-angka, yang belakangan aku tahu itu adalah sebuah formulir lembar wawancaranya PT HDN itu. Dimana didalamnya mengandung keterangan berupa angka-angka komisi dan bonus-bonus yang katanya akan diberikan setelah pengerjaan berlangsung.

“Bila bapak bayar sekarang 250 ribu, ID Card nya langsung bisa ditunggu, dan bapak langsung bisa membawa pulang pekerjaan nya.” ucapnya meneruskan.

Hah.... seterusnya aku jadi kaget. Terus aku berpikir 250 ribu dari mana lagi nyari uang segitu? Terus pikiranku menerawang lebih jauh lagi...

“Bagaimana pak, mau ambil sekarang?” kata beliau membuyarkan terawanganku.

“Tapi....,” baru aku mau ngomong kalo aku gak punya uang, kalo mesti bayar segitu gede mah.

Rupanya beliau maklum, kalau aku orang bokek atau ragu2, karena beliau langsung memberikan solusi:

“Silahkan bapak rembukan dulu sama istri di rumah, nanti kalau mau, datang besok sekalian sama istri, biar tahu sekalian.”

Beliau melipat2 formulir pendataranku tadi bersama formulir wawancara itu dan sebungkus kantong teh yang sudah jadi. Lalu memasukkan kedalam sebuah amplop, yang kemudian amplop itu dilem dan dikasihkan ke tanganku.

“Kami tunggu ya Pak”, ucap beliau menutup wawancara. Mungkin sekaligus mempersilahkan aku pulang secara tidak langsung. Meskipun penampilannya masih ramah seperti waktu pertama datang, tapi di wajahnya aku menangkap sedikit kekecewaan, karena aku tidak bawa uang pendaftaran yang 1/4 juta rupiah itu.

Aku langsung nyalamin beliau dan ngeloyor keluar dengan lemes. Ah... duit 250 ribu dari mana aku dapat, 10 ribu aja yang tadi aku serahkan ke bagian pendaftaran itu hasil aku ngumpulin 4 hari lho.... sisa2 beli bensin dari ngojek malem.

Kalau sehari ada 10 orang aja seperti aku, yang datang ke PT itu dengan maksud mau nyari duit tambahan, tapi kebentur uang yang 1/4 juta itu, pulang lah dengan tangan hampa..... Sementara PT itu mendapatkan 10 x 10 ribu uang pendaftaran yang datang sendiri, kan jadi 100 ribu, belum lagi kalau seharinya ada 100 orang, maka dalam sebulan bisa mencapai angka 26 dengan 5 nol dibelakangnya. Dua juta enam ratus bro...

Penasaran aku buka2 internet lagi untuk mencari nama PT HDN, maka yang pertama aku temukan adalah alamat www.kaskus.us yang didalamnya ada beberapa komentar....... satu diantaranya memaparkan kekecewaannya karena seolah2 dipaksa untuk mengeluarkan uang untuk pendaftaran yang 10 ribu dan diwawancara, yang sebenarnya bukan seperti layaknya wawancara di perusahaan lain, tapi nota bene menerangkan cara ngelipet packing teh doang, persis banget seperti yang aku alamin diatas.

Lalu satu lagi diantaranya, paparannya berisi kekecewaan saudara penulis yang di awal2nya disuruh bayar Rp.250.000,- lalu dikasih 1 kotak berisi bungkus2 teh yang belum dilem jumlahnya 250 lembar, lem dan 1 buah cotton buds untuk dikerjakan di rumah. Ternyata memang mudah sekali pengerjaannya hanya 1 jam sudah selesai. Besoknya mengembalikan kotak sambil mau mengambil duit komisinya. Satu kotak yang dihargai semula 70 ribu itu dipotong ADM, dll, total diterima cuman 63 ribu.

Nah Disini Busuknya Keluar....(maaf aku kutipkan ‘omelan’ asli dari paparan itu). Kita, katanya, gak bisa mengambil kerjaan lagi (ngelem kantong teh), tapi kita mesti ngajak orang lain 1 orang baru. Barulah kita akan dikasih kerjaan teh lagi. Si orang baru itu mesti bayar lagi 250 ribu. Begitu seterusnya... besoknya mesti ajak orang lain lagi.... lagi dan lagi... BERRRARTI..... ini kerjaannya MLM Model baru lagi.... (maaf kalau salah karena aku nggak tahu persis model2 MLM yang lainnya).

Karenanya aku cuman mau sharing aja buat para pembaca, pengalaman aku dan netter lain. Tapi kalau gak percaya silahkan dicoba aja.... barangkali mau bersedekah 10 ribu aja dulu buat pendaftaran, dan jangan kaget kalau disuruh bayar 250 ribu setelah itu.....

Ini contoh brosur yang mereka bagikan di jembatan penyeberangan persimpangan Daan Mogot - Kyai Tapa - Letjen S. Parman


Dan ini contoh bungkus teh yang sudah kita lem, yang jumlahnya 250 dalam satu kotak itu.


Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.