Selasa, Mei 06, 2014

Ban bunting?


Sore itu sepulang dari kerjaan yang siang, aku buru-buru menuju parkiran motor yang letaknya terhalang 2 bangunan dari kantorku. Karena aku sudah kesorean buat menuju tempat kerja yang malem, dan sudah direncanakan sore ini akan mampir dulu di bengkel mau beli bohlam lampu depan dan belakang motorku yang memang sudah beberapa hari ini mati.
Biasa, setelah kuhidupkan, motor kuarahkan ke pos petugas parkir, aku kasihkan kartu free ku, biasa, tidak ada yang aneh, setelah berbasa-basi sedikit dengan petugas parkir, yang notabene orang-orang baru….. orang-orang lamanya sebagian lagi tugas di parkiran areal depan rumah sakit, dan sebagian sudah ganti shift. Ngomong ke sana-sini sedikit sekedar sok kenal sok deket, sebagai pembuka buat memperkenalkan diri, biar mereka tahu aku ini bukan orang sembarangan di areal rumah sakit ini, sudah hampir 20 tahun aku habiskan umurku mencari makan di sini. Sementara bagian perparkiran sudah 3 kali pergantian obsorsing PT nya. Dengan begitu mereka timbul rasa segan dan menaruh hormat sama kita, ngeri juga mereka sama ‘penunggu’ rumah sakit ini.
Keluar dari areal perparkiran gedung, aku mulai merasakan ada yang aneh…. Ko gak enak nih bawa motor…. Apa karena kecapean yang suka membuat kita gak enak bawa kendaraan atau memang kendaraannya yang lagi gak enak….. 10 meter…. 20 meter…. 30 meter…. Masih gak enak aja…. Yang aku rasakan gak enak kayaknya di bagian depan motorku….. jalan nya roda gak beres… seperti naik kuda… ngajol-ngajol (=naik turun), aku perhatikan jalanan tidak seperti aspal jalanan waktu aku pernah lewati jalan raya Bogor daerah Kedunghalang Talang yang memang keadaan tanahnya labil sehingga aspalnyapun jadi ikutan bergelombang seperti ombak, kan kalau kita lewati…. Seperti lagi naik kuda tunggang aja… Lalu???….. dan setelah lebih dari 100 meteran perasaan was-was mulai menghinggapi aku, jangan-jangan ada terselip sebuah paku yang agak besar yang nancep di ban roda depanku…. Wah kalau bener, mesti pelan-pelan aku bawa ini motor sambil harus terus berdoa sepanjang jalanan biar paku ini itu tidak menjadikan ban dalam motorku robek (yang tidak akan bisa ditambal lagi, dan harus diganti dengan yang baru), atau mudah-mudahan anginya tidak cepet habis di ban depanku itu sehingga aku sampe di bengkel. Biar nanti orang bengkel aja yang nyabut.
Tapi ada juga kekhawatiran kalo emang bannya…. Jangankan buat ganti ban baru… buat nambal aja duitku gak ada, yang ada hanya buat beli bohlam lampu doang.
Dalam keadaan begini aku harus cepat memutuskan 2 pilihan, beli bohlam lampu yang memang perlu buat perjalanan malam ke tempat kerja yang malam, atau nambal ban. Ah. Yang pokok banget mah, nambal ban…. Toh nanti aku mesti sebisa-bisanya berangkat kerja melewati jalan tikus aja, yang biasanya gak ditongkrongi sama polisi, kalaupun nanti kalau ada polisi… aku sudah siap bikin akting, motor mogok ke…. Sehingga motor didorong dulu, atau kehabisan bensin…. Nanti kalau sesudah melewati mereka langsung tancap gas…. He…he….he….
“Kemana aja bos?” tiba2 sapaan seseorang menyadarkan aku. Eh tahunya aku sudah sampe di bengkel, dan motorku tanpa kusadari sudah mepet ke pinggir. Dan yang nyapa tadi kawan yang biasa nanganin motor aku kalau aku servis di bengkel itu.
“Ah, mau beli bohlam lampu depan-belakang”, jawabku sambil menstandarkan motor.
“Oh”, katanya sambil berlalu dihadapanku mau meneruskan pekerjaannya yang tadi rupanya ditinggalkan dulu untuk sekedar menyapaku.
Lalu aku segera membeli bohlam dua buah buat motorku, setelah aku perhatikan selintasan kondisi ban motorku yang tidak kempes, berarti bukan bocor, dan aku aman untuk membelikan uangku untuk bohlam saja.
Aku gelengkan kepala waktu bos yang punya bengkel menyarankan agar anak buahnya yang pasangkan lampu itu.
“Biar pasang sendiri saja nanti di rumah”, jawabku. Ada sedikit perasaan pedih dalam hati, karena biasanya pekerjaan yang kecil seperti masang bohlam lampu ini aku kasihkan sama mereka, buat bagi-bagi rejeki lah…. Karena aku gak pernah melupakan ngasih tips buat rokok anak buah bengkel yang pegang motorku, karenanya mereka akan giat sekali kalau aku datang ke tempat mereka bekerja. Tapi kali ini jangankan buat ngasih tips mereka, bensin dalam tangki motorku aja hampir sakaratul maut, dan uang buat belinya gak ada, gimana?
Iseng-iseng aku bisikin sama karyawan bengkel langgananku, keluhan motorku waktu aku naikin tadi, dengan pernyataan yang aku garis bawahi dan ditebelin lagi hurufnya: “ini nanya dulu aja ya”.(suaraku pelan seperti setengah hati, tapi bukannya mau nanya dengan ogah-ogahan tapi justru karena mau ngebengkelin sedangkan dokunya belum keliatan dari mana).
Kontan mas Toto, begitu dia dipanggil di bengkel itu, bertanya: “Goyangnya ke samping atau ke depan pak?”
“Seperti naek kuda, gitu mas”, jawabku.
Mas Toto, bangun dari pekerjaannya, lalu menghampiri motorku yang diiringi olehku. Lalu dia goyang-goyangkan as roda depanku, lalu bannya dia putarkan, dan sebentar diperhatikannya perputaran roda.
“Ah, ini sih bunting bannya pak”, ucapnya kemudian.
Aku terperangah, heran, dan kaget, seumur hidupku bertahun-tahun pake sepeda motor, dari mulai VESPA SUPER, SUPRAFIT, VEGA, ASTREA STAR, SUZUKI… baru kali ini aku mendengar istilah baru…… “Ban bunting?”
“Maksudnya?” pertanyaanku terloncat dari mulutku.
Mas Toto, tidak menjawab, hanya dia menunjukkan kondisi ban depan motorku. Seperti pada gambaran di bawah ini….. tapi ini aku ambil dari gambar di internet, aku lupa untuk mengabadikan keadaan ban motorku waktu itu, dengan kamera hp ku.
Tapi kondisinya tidak jauh beda dengan gambar itu, yang beda kalau di ban motorku waktu itu benjolannya tidak terlalu besar tapi nimbul dibeberapa bagian, sehingga kalau diperhatikan agak lucu juga, bannya benjol-benjol.


“Ditusuk aja Pak?” ucap karyawan bengkel yang lain.
“Ah jangan, entar meledak dong ban nya?” ucapku terlontar.
“Nggak pak, entar saya usahakan”, ucap mas Toto, sambil bangun dari jongkok di depan motorku, segera dia masuk ke gudang bengkel untuk mencari sesuatu.
“Gak aneh pak, ban-ban sekarang memang banyak yang begitu”, ucap seseorang yang lagi nungguin motornya dibongkar.
“Oh ya?” tanyaku heran, aku lupa waktu itu karena pertanyaanku itu membongkar ketidak tahuanku pada masalah kendaraan. Tapi gak apalah, kenyataannya memang ini pengalaman pertama buatku.
Jadi ternyata tidak hanya manusia yang bisa ‘bunting’, ban kendaraanpun bisa mengalaminya. Tapi tentunya ini bukan diakibatkan terjadinya hubungan seksual.
Apa penyebabnya? Ah nanti aja aku baca di internet, gengsi dong kalo aku tanya2 di bengkel, tengsin juga aku…. Nanti ketahuan kuper (kurang pergaulan) ku.
Dengan cara menusuk disamping-samping ban yang menonjol itu, dan dengan hati-hati, maka udara-udara yang menelusup ke ban itu pada keluar.
Maha Suci Allah, ternyata banyak sekali ilmu yang belum aku ketahui di dunia ini, termasuk ilmu sekecil itu, hanya mengeluarkan angin yang masuk ke ban saja, aku belum tentu bisa melakukannya, perlu keahlian khusus, keahlian seorang montir bengkel.
Maafkan mas Toto, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih waktu itu, karena aku gak punya uang buat ngasih tips, insya Allah lain waktu kalau aku ke bengkel lagi, akan aku lebihi tips nya ya….
Dalam pembahasan di internet, waktu aku mencari-cari jawaban tentang ‘ban bunting’, aku menemukan beberapa artikel yang aku rangkum disini, untuk sekedar sharing:
Ban bunting, yakni kejadian dimana ban luar motor, biasanya yang belakang, tanpa diketahui penyebabnya, tiba-tiba saja muncul benjolan seperti hamil. Posisi benjolan ini biasanya di sisi ban tapi juga bisa ditemui di bagian tengah ban. Ukuran benjolannya pun bervariasi, kadang begitu kecil sehingga agak tersamar kalau tidak diperhatikan dengan teliti, tapi sering juga cukup besar ukurannya.
Ban bunting, suka terjadi tidak hanya pada ban lama, tetapi ban baru pun bisa mengalaminya. Bahkan ada kasus, ban yang baru dipasang ketika diisi angin, di salah satu bagian sisinya timbul benjolan kecil! Bujug buneng! Ada kalanya dijumpai motor yang baru dibeli dari dealer, bannya sudah benjol.

Ada beberapa faktor yang mendukung terjadinya benjolan atau bisul pada ban :
1. Akibat tekanan angin pada ban kurang dari seharusnya.
2. Akibat penggunaan motor di jalan yang tidak rata atau rusak.
3. Cara berkendara yang ekstrem, seperti sering melakukan pengereman mendadak, late breaking atau pengereman dekat secara terus menerus.
Gabungan dari ketiga kondisi tersebut menyebabkan ban menerima beban tekanan keras ketika motor dijalankan.
Sehingga lama-lama mengakibatkan carcass ban aus atau rusak. Carcass adalah lapisan dasar ban, yang biasanya terbuat dari nylon. Dengan kondisi carcass yang aus atau rusak, tekanan angin yang masuk ke dalam ban akan mengakibatkan salah satu sisi menonjol layaknya bisul. Itu karena sisi nylon yang rusak ini seakan terpisah dengan carcass di sekitarnya.
Sebetulnya masih ada satu faktor lagi yang boleh dibilang sebagai penyebabnya, yaitu faktor Cacat produksi. Namun faktor ini yang biasanya dibantah keras oleh produsen ban. Mereka akan mengatakan bahwa produksi ban ditempatnya menerapkan prosedur dan standar baku pabrikan serta telah melewati quality control yang ketat, sehingga tidak mungkin ada ban yang cacat produksi bisa lolos ke pasaran.
Tapi yang jelas, kasus ban bunting ini memang benar ada, aku sendiri mengalaminya, mungkin anda juga pernah mengalami atau pernah mendengar kasusnya.
Yang aku syukuri adalah kejadian ban bunting ini tidak terjadi saat aku pagi-paginya waktu membonceng Bapakku ke terminal. Untuk pulang naik mobil jurusan Leuwi Panjang Bandung.
Memang Allah itu adil, saat kritis seperti ini masih ada juga yang harus aku syukuri.***

Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.