Selasa, Mei 24, 2011

TIDUR YANG BERJALAN

“Pijay….. Pijay….. Pijay habisss….” Lamat-lamat suara orang berteriak-teriak, suara itu begitu jauh dan kecil terdengar di telinga.

Aku mencoba memicingkan sebelah mata, sangat berat, tapi aku paksakan juga. Dari pemandangan luar yang aku bisa tangkap hanya dari segaris pintu pelupuk mata yang terbuka aku melihat kendaraan berseliweran, orang-orang lalu lalang, terus gedung-gedung tinggi menjulang.

Ah…. Sudah nyampe mana ini? Stasiun berikutnya apa ya? Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru apa Cawang yah?... Aku sangat ngantuk sekali hari ini. Aku kepagian pulang kerja semalem, jam setengah lima Subuh baru nyampe pintu rumah. Gara-gara mobil omprengan di Pasar Minggu itu yang lama sekali menunggu penuh penumpangnya, jadinya tambah lama lah kita nongkrong di terminal darurat Pasar Minggu, dan tambah malam/menjelang pagi lah kita nyampe di rumah.

Seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, sudah berjalan 3 tahunan bahkan, aku pulang kerja dari Jalan Percetakan Negara Jakarta Pusat jam setengah dua belas malam, jalan menyusuri kegelapan malam diantara perumahan orang2 yang beruntung (aku sebut orang2 beruntung… karena buat aku yang ‘tidak seberuntung’ mereka, hanya punya rumah jauh di ‘daerah terpencil’ di Citayam sanah, jauh dari hiruk pikuknya kota Metropolitan ini).

Sampe di Jalan Pramuka Raya, dilanjutkan dengan menyusuri jalan itu ke Jalan Tambak sampai Terminal Manggarai. Dari sana aku naik mobil omprengan ke Pasar Minggu. Tiba di Pasar Minggu, disana sudah menunggu mobil2 omprengan yang ke Pasar Kemiri Depok, terus disambung lagi naik angkot biru 05 jurusan Bojong Gede. Tapi kalau mau sekali naik mobil harus jalan lagi ke arah Lenteng Agung menyusuri pinggiran rel Kereta Api. Dipojok dekat palang pintu KA itulah ada sebuah halaman yang tidak begitu luas depan sebuah apotik kalau malam setelah ‘kereta terakhir’ ke arah Timur lewat, dipakai pangkalan terminal dadakan buat mobil angkot biru 05 yang sengaja ngompreng menjemput orang yang ketinggalan ‘kereta terakhir’. Angkot biru itu sebetulnya bertrayek Depok-Bojong Gede, namun kalau sudah malam begitu, mereka dengan setia suka nunggunya di pojokan Pintu kereta Pasar Minggu itu, tentunya dengan ongkos berlipat ditambah jarak Pasar Minggu-Depok.

Mau mobil omprengan ke Pasar Kemiri Depok ataupun mobil angkot ngompreng itu sama saja, mereka akan setia menunggu penumpang, sampai benar-benar penuh sesak, baru mau jalan. Mereka tak segan-segan mengusir penumpang yang tidak sabaran. Bagi kami sang penumpang, hanya bisa mengurut dada, dan menekan dalam2 sumpah serapah karena kesal saking lamanya nunggu mobil jalan. Tapi tidak ada pilihan lain buat kami, terutama orang seperti aku yang selalu menggantongi ongkos pas-pasan malah seringnya cekak.

Saking kelamaannya nunggu penumpang penuh, sampai2 kami sering ketiduran sambil duduk, dan saking pulasnya aku sering dibangunin kernet kalau sudah sampai Pasar Kemiri kalau naek mobil omprengan, dan sering kebablasan ke Bojong Gede kalau naek angkot yang ngompreng itu. Ujung-ujungnya harus jalan kaki balik lagi dari Bojong Gede ke arah Citayam karena sudah tidak ada lagi angkutan yang ke arah balik. Begitu sampai di Bojong mereka langsung tertidur di sana.

Saking kelamaannya nunggu itu, aku sering terpaksa makan sahur (bulan Ramadhan) di Terminal Depok, karena kalau dipaksakan pulang, azan Subuh baru sampe rumah.

Dan saking kelamaannya nunggu itu pula, nyampe rumah menjelang Subuh, habis Shalat aku ketiduran, dan jam setengah delapan pagi sudah dibangunkan lagi, buat siap-siap berangkat kerja lagi. Jelaslah…. Waktu tidur yang hanya 3 jam itu, setiap hari, membuat aku selalu ketiduran di perjalanan baik itu di bis, angkot atau di dalam kereta api.

Hah…. Sekarang aku sudah didalam angkot atau kereta api yah……? Aku tersentak seperti kena petir di siang bolong. Mata aku paksakan untuk terbuka lebar, biar jelas bener lihat sekeliling... Kendaraan yang berseliweran. Orang-orang yang lalu lalang. Dan gedung-gedung yang tinggi menjulang itu begitu dekat… Eh… ko.. Gedung-gedung itu turun seperti amblas ke bumi….. Ya ampun bukannya amblas… tetapi mereka itu turun… dan aku yang naik ke tanjakan…. Yah… tanjakan jembatan…. Jembatan Tomang???

Aku kaget sekaget-kagetnya….. setelah sadar kalau aku sudah ada di atas jembatan Tomang, berarti aku sudah di dalam bis, bukan lagi di dalam kereta api, dan Stasiun kereta Cawang dimana aku selalu turun dari kereta sudah terlewat jauh… yang baru terlewati adalah Rumah Sakit Harapan Kita, Mall Taman Anggrek dan Untar. Yah….. kelewatan lagi deh….

Aku terpaksa turun di halte Citraland, beberapa halte setelah halte Rumah Sakit dimana dimana kantorku bertengger. Itupun setelah aku berusaha sekuat tenaga buat bangkit dari tidur dan dengan segenap kemampuanku untuk mencerai beraikan penumpang dari kepadatannya, dan melakukan loncatan terakhir dari pintu bis ke tepian jalan.

Huh… untung aku selamat, kakiku tidak terkilir, atau babak belur karena terseret bis yang sudah mulai bergerak.

Hari ini pun aku harus berjalan kaki lagi naik jembatan penyeberangan lalu menyusuri jalan S. Parman ke arah balik, karena memang tempat ‘nyangkul’ ku sudah kelewatan.

Seandainya tadi aku sadar kalau yang teriak2 itu kernet… yang mengingatkan bahwa bis sudah sampai Slipi Jaya (biasa disingkat Pijay), tentunya aku harus segera bangun dan bersiap-siap karena di halte berikutnya aku harus turun, dan tentunya aku tidak akan makin terlambat sampai di kantor, dan tentunya lagi aku tidak terlalu kecapaian karena harus jalan kaki sebab duit di dompet hanya cukup buat ongkos entar pulang malam.

Lagi-lagi terlambat, lagi-lagi datang kesiangan, lagi-lagi si Bos ngomel, lagi-lagi Ibu Bendahara dan Sekretaris melihat ke arahku sambil memicingkan mata ke arah jam dinding.

Ah… sudah tahu ko…. Aku terlambat….. dan absenku ditandai dengan lambang bintang…. Pertanda HARI INI UANG MAKAN DIPOT TONK alias dipenggal. Begitu gumamku dalam hati.

Memang kejadian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama setelah aku bertempat tinggal di daerah Citayam, yang kurang lebih 70 km dari tempat kerja. Dan setelah aku selalu pulang tengah malam karena setelah kerja di Rumah Sakit, aku masuk kerja lagi di sebuah Biro Jasa Percetakan. Sebab kalau tidak begitu…. Mana bisa aku bayarin rumah kreditan, ngasih makan anak bini, nyekolahin anak, dan biaya ini itu di jaman seperti ini. Itupun aku harus bersyukur jarang-jarang ada orang yang bisa bekerja di dua tempat dalam seharian.

Makanya sudah tidak heran lagi kalau aku suka ketiduran di kereta terakhir menuju pulang, dan bangun sudah mau sampai stasiun Bogor, dari sana mesti naek omprengan balik ke Bojong Gede dan melanjutkan dengan jalan kaki ke arah Citayam. Atau ketiduran di kereta waktu berangkat, yang aturan turun di stasiun Cawang…. Bisa-bisa turun di stasiun Manggarai, Cikini bahkan di Kota.

Memang aku sering ‘Tidur yang berjalan” tapi bukan ngelindur, alias bangun dari tempat tidur, terus jalan terseret-seret keluar kamar sambil mata masih tertutup rapat.

(*memoriku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pepatah

Kehormatan adalah ibarat sebuah pulau yang sangat curam tanpa tebing, sekali jatuh dari pulau itu tak dapatlah orang mendakinya kembali.